Rabu, 21 November 2012

makalah perjuangan guru pada masa penjajahan



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah s.w.t karena hanya dengan ridho_Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ke-PGRI-an. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Terutama Bapak Drs. Hartono. selaku dosen yang telah menugaskan penyusunan makalah ini.
Penulis merasa bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna penyusunan selanjutnya.
Semoga dengan disusunnya makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan tak lupa bagi pembaca umumnya. 


               
                                                                       

                                                                               





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .........................................................................................  i
KATA PENGANTAR ......................................................................................  ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................  iii
BAB I ................................................................................... PENDAHULUAN      1
A. Latar Belakang ..................................................................................  1
B. Rumusan Masalah .............................................................................  2
C. Tujuan ...............................................................................................  2
BAB II  PEMBAHASAN ................................................................................  3
A. Pengertian Guru ................................................................................  3
B. Keadaan Pendidikan di Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda ... 5
C. Perjuangan Guru pada Masa Penjajahan Belanda ..........................  14
D. Keadaan Pendidikan pada Masa Penjajahan Jepang ......................  21
E. Perjuangan Guru pada Masa Penjajahan Jepang.............................. 31
BAB III PENUTUP .......................................................................................  34
A.  Kesimpulan...................................................................................... 34
B.  Saran................................................................................................  35
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................  36








BAB I
PENDAHULUAN

1.1.             Latar Belakang
Di dalam kebudayaan bangsa Indonesia, profesi guru mempunyai kedudukan paling tinggi dan dihormati oleh masyarakat. Masyarakat jawa mengenal ungkapan “guru, ratu, wong tuwo karo” artinya adalah taatilah pertama-tama gurumu, lalu rajamu, kemudian kedua orang tuamu. Penghargaan guru tersebut juga terjadi pada masa kolonial, dimana status profesi guru mempunyai kedudukan yang terhormat karena itu guru dihargai oleh masyarakat. Mereka dianggap panutan masyarakat, pemimpin masyarakat, dipanggil ndoro guru dengan status ekonomi yang cukup tinggi. Pada masa kolonial, memang status profesi guru relatif tinggi.
Pada masa penjajahan Jepang, sang guru mendapat kehormatan dengan julukan “Sensei” yang sesuai dengan kebudayaan Jepang dimana guru mempunyai kedudukan sosial yang sangat dihormati. Selanjutnya pada masa pasca kemerdekaan sekitar tahun 1950-an, profesi guru pernah menjadi dambaanorang. Dalam berbagai daerah, ambil contoh di kawasan Indonesia Timur, yang dicari adalah pegawai negeri atau guru.
Dengan perkembangan jaman dan pola fikir masyarakat, terjadilah pergeseran anggapan tentanng guru, berkaitan dengan perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Profesi guru bukanlah merupakan pilihan utama dan bergensi, bahkan status profesi guru lebih rendah dibandingkan dengan profesi lain seperti dokter, hakim, teknisi, dan bahkan buruh sekalipun. Profesi guru semakin terpuruk, khususnya guru Sekolah Dasar (SD) yang terkesan “terbelakang” kesejahteraannya. Padahal keprofesian guru menuntut kecakapan dan usaha intelektual yang tinggi, serta pendidikan formal yang cukup tinggi.
Selain itu, Guru juga mempunyai peranan penting di dalam memperjuangkan dan merebut kemerdekaan. Namun tidak banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Oleh sebab itu, makalah ini di tulis untuk menjelaskan bagaimana pentingnya tokoh seorang guru dan seberapa besarnya peranan guru di dalam berjuang melawan penjajah.

1.2.             Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
a.       Apa pengertian dari guru ?
b.      Bagaimana pendidikan di jaman penjajahan Belanda ?
c.       Bagaimana perjuangan guru pada masa penjajahan Belanda ?
d.      Bagaimana pendidikan di jaman penjajahan Jepang ?
e.       Bagaimana perjuangan guru pada masa penjajahan Jepang ?

1.3.             Tujuan
Dari rumusan masalah di atas dapat ditarik tujuan sebagai berikut :
a.       Mengidentifikasi pengertian guru
b.      Menjelaskan keadaan pendidikan di jaman penjajahan Belanda
c.       Menjelaskan perjuangan guru pada masa penjajaham Belanda
d.      Menjelaskan keadaan pendidikan pada jaman penjajahan Jepang
e.       Menjelaskan perjuangan guru pada masa penjajahan Jepang


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.            Pengertian Guru
Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
Secara etimologis (asal usul kata), istilah guru berasal dari bahasa Indiayang artinya orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara. Dalamtradisi agama Hindu, guru dikenal sebagai Maha Resi guru yakni para pengajar yang bertugas untuk menggembleng para calon biksu di bhinaya pantii (tempat pendidikan bagi para biksu). Dalam bahasa Arab, guru dikenal dengan almu'alimatau ustadz yang bertugas memberikan ilmu dalam majelis taklim (tempat memperoleh ilmu). Dengan demikian, al-mu'alim atau ustadz, dalam hal ini juga mempunyai pengertian orang yang mempunyai tugas untuk membangun aspek spiritualitas manusia.Dari aspek lain, beberapa pakar pendidikan telah mencoba merumuskan pengertian guru dengan definisi tertentu.
Menurut Poerwadarminta guru adalah orang yang kerjanya mengajar. Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Dengan demikian, pengertian guru inihanya menyebutkan satu sisi, yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih. Sementara itu, Zakiyah Daradjat dikutip dari buku “Menjadi Guru Efektif” menyatakan bahwa guru adalahpendidik professional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak. Dalam hal ini, orang tua harus tetapsebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sedangkan guru adalah tenaga professional yang membantu orang tua untuk mendidik anak-anak pada jenjang pendidikan sekolah. Dari pengertian diatas, guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dan upaya mencerdaskan kehidupan bagsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal maupun aspek lainnya berada di lembaga pendidikan sekolah., baik yang didirikan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat atau swasta Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.
Dalam agama Buddha, guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.
Dalam agama Sikh, guru mempunyai makna yang mirip dengan agama Hindu dan Buddha, namun posisinya lebih penting lagi, karena salah satu inti ajaran agama Sikh adalah kepercayaan terhadap ajaran Sepuluh Guru Sikh. Hanya ada sepuluh Guru dalam agama Sikh, dan Guru pertama, Guru Nanak Dev, adalah pendiri agama ini.
Orang India, China, Mesir, dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi. Oleh sebab itu seorang guru sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka
Jadi dapat disimpulkan bahwa guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
2.2.            Keadaan Pendidikan di Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda
Keadaan pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sangat memprihatinkan baik dari segi pendidikan, guru, dan sekolahnya.

2.2.1.      Pendidkan dan Sekolah
Pada jaman Protugis dan spanyol mulai didirikan sekolah-sekolah model baru, berlainan dengan sekolah-sekolah pesantren. Di sekolah ini tidak hanya diajarkan tentang agama namun juga diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah-sekolah ini hanya berada di kepulauan Maluku sampai kedatangan VOC di Indonesia. VOC berkuasa di Indonesia pada tahun 1600-1800. VOC ini juga mengadakan sekolah-sekolah di daerah kekuasaan mereka seperti kepulauan Maluku, di beberapa pulau di kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), di Batavia (Jakarta), dan di Semarang.
Sekolah-sekolah Belanda ini diadakan 2 jam pada waktu pagi dan 2 jam pada waktu sore hari. Pada mulanya bahasa pengantar yang dipergunakan adalah bahasa Belanda, akan tetapi karena hasilnya tidak memuaskan maka diganti dengan bahasa Melayu. Anak-anak tidak teratur didalam bersekolah karena mereka harus membantu kedua orang tuanya. Gurunya berkebangsaan Belanda dan kebanyakan tidak mendapatkan latihan sebagai guru. Pelajaran yang diberikan hanya terdiri dari agama, menyanyi, membaca, menulis dan berhitung. Orang-orang yang sudah tamat sekolah harus berkumpul dua kali dalam seminggu untuk kelas-kelas lanjutan.
Pada tahun 1684 diumumkan Undang-Undang Sekolah pertama, yang isinya antara lain :
-       Untuk mendirikan sekolah harus seijin pemerintah
-       Jam pelajaran sekolah jam 08.00-11.00 dan jam 14.00-17.00
-       Dilarang adanya pelajaran campuran antara anak laki-laki dan perempuan
-       Hari libur dan uang sekolah diatur pemerintah
-       Sekolah-sekolah dimonitoring 2 kali setahun
Pada tahun 1778 dikeluarkan Undang-Undang yang baru, yang isinya antara lain :
-       Tiap-tiap sekolah dibagi dalam 3 kelas
-       Di kelas satu diajarkan membaca, menulis, berhitung, menyanyi, dan agama
Pada tahun 1800 VOC dibubarkan, Indonesia dijajah secara langsung oleh pemerintahan Belanda. Dalam bidang pendidikan hampir sama dengan VOC hanya sekarang pendidikan diperbanyak akibat pengaruh dari Liberalisme. Gubernur Jendral Daendels (tahun 1808-1811) memerintahkan kepada para Bupati di Jawa untuk mendirikan sekolah-sekolah pribumi.
Tahun 1830 Pemerintah Belanda memerintahkan kepada para Bupati dan Residen untuk mendirikan sekolah pribumi dengan mata pelajaran budi pekerti, membaca, dan menulis.
Tahun 1850 pemerintah mendirikan Sekolah Dasar Missie (Zending) di Maluku, Manado, Timor, Jawa, dan Kalimantan. Tahun 1852 didirikan sekolah guru. Tahun 1867 didirikan Depertemen Pendidikan yang bertanggung jawab terhadap permasalahan pendidikan.
Tahun 1871 Pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan peraturan yang isinya :
-       Jumlah pendidikan guru ditambah
-       Sekolah-sekolah dasar diperuntukkan bagi anak golongan nigrat dan umum
-       Pelajaran diberikan dengan bahasa daerah
-       Mata pelajaran yang diberikan dalah membaca, menulis dan berhitung
-       Mata pelajaran pilihan berhitung, ilmu bumi, sejarah, biologi, pertanian, menggambar, penelitian, menyanyi, dan bahasa Belanda
-       Semua pengeluaran kecuali uang sekolah ditanggung oleh pemerintah
-       Agama tidak boleh diajarkan di sekolah pemerintah
Tahun 1892 dikeluarkan peraturan pemerintah :
-       Ada sekolah tingkat I untuk anak-anak tingkat dasar
-       Ada sekolah tingkat II untuk masyarakat umum
Sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Belanda semakin bertambah jumlahnya dan berjenis-jenis. Hal ini memang disengaja oleh pemerintah Belanda dalam rangka melaksanakan politik devide et empera dalam bidang pendidikan di Indonesia.
Sampai dengan tahun 1937 sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintahan Belanda adalah :
a.       Sekolah Desa
Sekolah desa ini diseduaikan dengan kehidupan desa. Lama pelajaran 3 tahun, selama dua setengah jam sehari.
Di sini diajarkan bahasa daerah, berhitung, yang berguna untuk kehidupan sehari-hari, membaca menulis dengan huruf daerah dahulu dan kemudian huruf latin.
Jumlah sekolah desa tahun 1921 ada 8000 buah dengan murid 543.000 orang.
b.      Sekolah Kelas Dua
Sekolah Kelas Dua untuk umum. Waktu Sekolah Desa diadakan, beberapa Sekolah Kelas Dua ini dijadikan “Standaard School” atau “Vervolgschool”, yaitu sekolah sambungan bagi sekumpulan Sekolah Desa yang berdekatan, dengan maksud supaya pengajaran sama dengan pengajaran di Sekolah Kelas Dua biasa. Lama pelajaran 2 tahun sesudah Sekolah Desa. Sekolah Kelas Dua pada mulanya terdiri dari 3 kelas, kemudian ditambah menjadi 4 kelas dan akhirnya menjadi 5 kelas.
Di sekolah ini diajarkan bahasa Melayu. Tamatannya hanya dapat meneruskan ke Sekolah Normal (untuk calon guru Sekolah Kelas Dua) dan Sekolah Pertukangan (Ambachtschool).
c.       Schakelschool atau Sekolah Penghubung
Sekolah ini, selama 5 tahun mengajarkan murid-murid Sekolah Kelas Dua yang pandai dari kelas 3, 4 atau 5 sehingga mencapai kepandaian setaraf dengan kepandaian tamatan HIS. Tamatan Schakelschool ini dapat meneruskan pelajaran ke MULO.
d.      Hollands Inlandse School (HIS)
Lama pelajaran 7 tahun. Pada sekolah ini diajarkan 3 bahasa, yaitu bahasa Daerah, Bahasa Melayu, dan Bahasa Belanda. Sekolah ini merupakan dasar bagi anak Indonesia yang ingin melanjutkan pelajarannya ke MULO, AMS dan Sekolah Tinggi. Yang dapat diterima di HIS adalah anak-anak bangsawan atau pegawai negeri.
Pada tahun 1921 jumlah sekolah ini ada 146 buah milik negeri dan 64 buah sekolah swasta yang mendapat subsidi, jumlah murid seluruhnya ada 400.000 orang.
a.       Europese Lagere School (ELS)
Sekolah rendah untuk bangsa Belanda ini mata pelajarannya diatur sehingga dapat bersambung dengan sekolah rendah yang ada di negeri. Lama pelajarannya 7 tahun. Dari 27.000 murid yang ada pada waktu itu, 3.400 anak Indonesia dan 1.400 anak Tionghoa. Murid-murid tamatan ELS yang dapat surat keterangan dari Kepala  Sekolah dapat diterima di kelas I MULO, yang lulus ujian tertulis dalam bahasa Belanda dapat diterima di HBS.
b.      Sekolah MULO
MULO itu asal mulanya merupakan dua kelas tambahan pada ELS kelas I, untuk memberikan pengajaran rendah yang lebih lanjut kepada tamatan ELS tersebut. Secara berangsur-angsur pelajaran pada kelas ini ditambah dan lama pelajarannya diperpanjang menjadi 3 tahun.
Pada tahun 1914 telah ada 10 MULO. Pada tahun 1919 MULO ini dijadikan bagian bawah dari IMS, yang kemudian menjadi AMS.
Pada tahun 1925 terdapat 19 buah MULO negeri dan 7 buah MULO partikelir. Jumlah murid seluruhnya ada 3.900 orang, diantaranya 1.635 orang Indonesia.
c.       Algemene Middlelbare School (AMS)
Sekolah ini didirikan pada tahun 1919 dengan nama Indische Middlelbare School (IMS). Pada tahun 1919 AMS ini terdapat di Jogja dengan jurusan Ilmu Hisab dan Ilmu Alam (Wis en Natuurkundige Afdeling). Kemudian dibuka 2 jurusan lagi, yaitu jurusan bahasa-bahasa Barat dan jurusan bahasa-bahasa Timur.
d.      Hogere Burger School (HBS)
HBS ini terdapat di Betawi, Bandung, Semarang dan Surabaya. Lama pelajarannya 5 tahun. HBS yang ada di Indonesia sama dengan HBS di Belanda.
Dari HBS 5 tahun ini tamatannya bisa masuk ke Sekolah Perniagaan dan Sekolah Ilmu Pelayaran, yang lama pelajarannya masing-masing 5 tahun. Terdapat 6 buah HBS partikelir (swasta), tetapi murid-muridnya semua wanita.
e.       Sekolah Kejuruan
-       Guru Sekolah Desa diambil dari tamatan Sekolah Kelas II. Selama 2 tahun mereka mengikuti kursus untuk guru desa.
-       Kursus Guru Bantu, yaitu tamatan Sekolah Kelas II yang mengikuti kursus guru selama 2 tahun sambil mengajar.
-       Normaalschool menerima murid tamatam Sekolah Kelas II. Lama pelajaran 4 tahun.
-       Kwekschool atau Sekolah Raja, mendidik guru untuk HIS. Lama pelajarannya 4 tahun sesudah HIS. Bahasa yang diajarkan yaitu, bahasa Daerah, bahasa Melayu, dan bahasa Belanda.
-       Hogere Kweekschool (HKS) tamatan kweekschool yang terpilih dan mahir bahasa Belanda dapat melanjutkan di HKS. Lama belajarnya 3 tahun.
-       Hollands Inlandes Kweekschool (HIK). HIK mengantikan HKS, yang diterima di HIK adalah tamatan HKS yang lama belajarnya 6 tahun, atau tamatan MULO yang lama belajarnya 3 tahun.
Pada HIK ini diajarkan ilmu alam/kimia, ilmu pasti, bahasa Inggris, bahasa Jerman, di samping bahasa Belanda yang menjadi bahasa pengantar.
-       Hollands Chinese Kweekschool (HCK) yang sederajat dengan HIK.
-       Kursus Hoofdakte adalah kursus-kursu untuk calon Kepala Sekolah HIS,  HCS dan HAS. Yang diterima, guru-guru tamatan HKS, HCK, HIK, Europese Kweekschool yang terpilih. Lama kursus untuk Kepala Sekolah berbahasa Belanda ini 2 tahun.
-       Osvia singkatan dari Opleidings-School voor Inlandes Ambtenaren adalan sekolah untuk mendidik calon : Pangreh Praja. Nama sekolah ini sesudah ditingkatkan mutunya diganti menjadi Mosviba (Middelbare Opleidings School voor Bestuursambtenaren). Lama pendidikan 6 tahun sesudah HIS, yaitu 3 tahun tingkatan MULO dan 3 tahun berikutnya tingkatan Sekolah Menengah Atas.
-       Bestuurschool ialah untuk mendidik calon-calon Bupati. Yang diterima, pejabat pangreh praja tamatan Mosviba yang terpilih dan sebagian besar anak Bupati.
-       Sekolah-sekolah jurusan lainnya : Sekolah Pertanian (Kultuurschool) di Bogor, Sekolah Pertanian Menengah Atas, Sekolah Dokter Hewan, Sekolah Dokter Gula, Sekolah Pelayaran Menengah Atas (Prins Hendrik School), Sekolah Pendidikan Kelasi Bangsa Indonesia di Makasar, Rechtschool yang kemudian ditingkatkan menjadi Rechts Hoge School (Sekolah untuk Sarjana Hukum), Sekolah Dokter Jawa (Stivia) yang kemudian ditingkatkan menjadi Medische Hoge School (MHS). Sekolah-sekolah teknik dari Ambachtschool sampai ke Technische hoge School.

2.2.2.      Nasib Guru pada Masa Hindia Belanda
Kekuasaan Belanda yang berlangsung tiga setengah abad jatuh dalam waktu yang sangat singkat. Melitah persiapan tentara Belanda, terutama mengenai mareriil baik alat-alat senjata maupun persediaan makanan dan pakaian, sangat mengherankan hal ini terjadi. Salah satu sebab ialah tidak nampaknya semangat peperangan pada para prajurit dan perwira tentara Hindi Belanda. Sebab lain adalah kesalahan Hindia Belanda di dalam menjalankan politiknya di Indonesia.
Politik kolonial Hindia Belanda itu sangat dipuju oleh luar negeri. Susunan organisasi Pemerintah di Hindia Belanda diadakan sedemikian rapi, sehingga tidak ada kejadian yang tidak segera diketahui oleh pusat. Modal asing yang ditanam di sini jamin. Sehingga dengan leluasa orang asing menggali keuntungan dari alam Indonesia. Dan tidak boleh dilupakan, rakyat Indonesia sendiri pada waktu itu nampak tertib, sehingga melahirkan ucapan bahwa bangsa Indonesia adalah “bangsa yang paling lemah lembut di dunia”-“hetzachtste volk der aarde”. Politik memecah belah dilakukan sedemikian halusyan, sehingga tidak dirasakan oleh yang berkepentingan. Dimana-mana perbedaan pengajian mencolok sekali.
Di bidang pendidikan diadakan bermacam-macam sekolah dasar, masing0masing untuk golongan tertentu. Umpama sekolah desa untuk golongan orang desa, sokolah dasar angaka II untuk rakyat biasa yang ada di kota, sekolah dasar berbahasa Belanda untuk anak-anak nigrat atau anak pegawai pemerintahan Hindia Belanda.
Guru-gurunya tamtan bermacam-macam sekolah guru, seperti Sekolah Guru Desa, Normaalschool (NS), Kweekschool (KS), Hogere Kweekschool (HKS), Hollands Inlandce Kweekschool (HIK), Europase Kweekschool (EKS), Indische Hoofdacte dan sebagaimananya. Guru-guru ini mempunyai serikat sekerja masing-masing menurut ijasahnya.
Perbedaan dalam pengajian dan kedudukan tersebut tidak jarang menimbulkan pertentangan antara golongan guru yang bermacam-macam itu, hal mana yang tidak menguntungkan dunia pendidikan.
Oleh Pemerintahan Kolonial Belanda sengaja diciptakan golongan tinggi dan golongan rendah yang sangat mempengaruhi pergaulan antara golongan-golongan itu. Mereka itu pada umumnya tidak mau saling mengenal.
Kalau jarak antara golongan tinggi dan golongan rendah sudah begitu jauh, maka lebih besar lagi jarak antara rakyat dengan pembesar-pembesar.
Siasat pecah belah ini diadakan di semua lapangan, di dalam gerakan-gerakan masyarakat, baik yang mengenai politik maupun yang mengenai sosial/ekonomi. Banyak para pemimpin pergerakan bangsa Indonesia ditangkap, di masukkan ke penjara atau dibuang keluar daerah (ke negeri Belanda, ke Bengkulu, ke Boven Digul/Iran dan lain-lain). Tndakan pemerintah pemerintahan Hindia Belanda ini mengakibatkan lemahnya kedudukan bangsa Indonesia pada umumnya di semua lapangan.
Tetapi hal yang demikian ini lama-lama dapat dimengerti oleh rakyat berkat keberanian para pemimpin perjuangan. Lambat laun timbullah rasa kecewa pada rakyat terhadap pemerintah colonial yang diskrimintif dan memecah belah itu, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung.
Para pemimpin bangsa Indonesia yang bekerja sama dengan Belanda pun merasa kecewa, karena beberapa usulnya dalam Volksraad diabaikan sama sekali. Seperti usul mengadakan milisi di kalangan bangsa Indonesia, usul mempermudah anak-anak Indonesia masuk sekolah-sekolah Belanda dan sekolah Tinggi, usul supaya Volksraad benar-benar mengatur Negara (petisi Soetardjo), usul mengenai pemberantasa buta huruf dan sebagainya.
Hal-hal seperti tersebut di atas itulah yang akhirnya merugikan pemerintahan Hindia Belanda sendiri.  

2.3.            Perjuangan Guru Pada masa Penjajahan Belanda
Penjajahan Belanda selama tiga setengah abad mengakibatkan penderitaan lahir maupun batin bagi bangse Indonesia. Semenjak penjajah menginjakkan kakinya dan mencekamkan kuku penjajahnya di bumi tanah air kita ini, timbullah gejolak perjuangan bangsa kita menentang panjajah. Mulai dari perjuangan fisik berkuah darah yang dilakukan oleh bangsa kita di bawah pimpinan : Teuku Oemar, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pattimura, dan lain-lain, sampai pada zaman perjuangan politik pada awal abad ke-20.
Nama-nama Kartini, Dr. Sutomo, Raden Ngabehi Husodo, Ciptomangunkusumo, dan sederetan nama lain lagi, merupakan pecetus perjuangan melalui ideologi pendidikan untuk memperjuangkan nasib bangsa kita yang sangat sengsara di tapak kaum penjajah. Lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908 merupakan obor perjuangan dikalangan kaum terpelajar dan kaum priyayi yang secara sadar merasa terpanggil oleh jeritan nasib bangsanya yang menyedihkan.
Pada tahun 1908 itu juga berdiri organisasi buruh Vereniging van Spoor dan Tramweg Personeel in Nederlands Indie (VSTP) yakni satu organisasi buruh Tram dan Kereta Api, yang pada tahun 1923 mengadakan mogok kerja, membuat kalang kabutnya pemerintahan Belanda.
Pada tahun 1912 berdiri sebuah organisasi agama, Muhammadiyah, di Yogyakarta. Diantara progamnya termasuk progam pendidikan.
Suatu bangsa tidak akan merdeka tanpa adanya pendidikan. Belanda memang sudah mendirikan sekolah di mana-mana, tetapi sekolah itu hanya sekedar mencukupi pegawai yang diperlukan di segala instasi dan perusahaan kaum penjajah. Oleh karena itu, Belanda tidak banyak mendirikan sekolah. Akibatnya selama 350 tahun Belanda menjajah Indonesia dengan sensus penduduk tahun 1930 bangsa Indonesia yang mengerti tulis baca hanya 5% saja.
Berkembangnya organisasi Muhammadiyah ini tumbuh pula di serat tanah air kita sekolah-sekolah yang berpengantar bahasa Melayu dan sekolah-sekolah yang berbahasa Belanda.
Pada tahun 1912 para guru berhasil membentuk organisasi guru yang bersifat Unitaris yaitu Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHD) yang anggotanya terdiri dari guru-guru tanpa memandang perbedaan ijasah, status, tempat bekerja, dan agama atau kepercayaan.
Salah satu kegiatan PGHD yang paling menonjol dalam bidang sosial adalah didirikannya Perseroan Asuransi Bumi Putera langsung dibawah PGHD pimpinan Karto Hadi Subroto., yang bertujuan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan guru sebagai anggota. Dalam perkembangannya perseroan ini akhirnya lepas dari PGHD. Melihat terbentuknya persatuan guru yang tergabung dalam PGHD, pemerintah Belanda berusaha untuk menghancurkannya dengan mendirikan berbagai jenis organisasi. Akibatnya PGHD pecah menjadi organisasi-organisasi yang berdasarkan ijasah, tempat pekerjaan, agama dan lain-lain.
Organisasi-organisasi yang didirikan oleh pemerintahan Belanda tahun 1919 antara lain :
a.       PGB          = Perserikatan Guru Bantu
b.      PNS           = Perserikatan Normaal School
c.       KSB          = Kweekschool Bond (Perserikatan Guru Kweekschool)
d.      SOB          = School Ohzieners Bond (Perserikatan Guru Sekolah)
e.       PGD          = Perserikatan guru Desa
f.       VOB         = Volk Onderweys Bond (Perserikatan Guru Kejuruan)
g.      PGAS        =Perserikatan Guru Ambatschool (Sekolah Pertukangan)
h.      HKSB       = Hogere Kweekschool Bond (Perserikatan Guru Tingkat Atas)
i.        NIOG        = Nerdeland Indisch Onderweys Genootschap (Perserikatan  Guru  Bumi Putera)
j.        OVO         = Onderweys Volk Organization
k.      COB          = Chineeche Onderweyzer Bond (Perserikatan Guru Tionghoa)
l.        KOB         = Katholieke Onderweyzer Bond (Perserikatan Guru Katholik)
m.    COB          = Christelike Onderweyzer Bond (Perserikatan Guru Kristen)
Sebagai usaha untuk memperjuangkan nasib anggotanya, PGHD pada tahun 1930-an mencoba menggabungkan diri pada Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri (PVPN). PVPN merupakan perpusatan serikat sekerja pegawai negeri yang sejek pendiriannya berada di luar pengaruh partai-partai politik dan PVNP sendiri tidak mempunyai tujuan politik. Masuknya PGHD menjadi anggota PVNP diharapkan dapat memperjuangkan nasib guru. Beberapa usaha PVNP itu antara lain pada bulan Desember 1931 mengadakan rapat disertai oleh perkumpulan politik Budi Utomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Sarekat Ambon, Kaum Betawi, dan Jong Celebes, untuk memprotes rancangan pemerintah yang hendak mengadkan penghematan besar-besaran di lapangan pengajaran, yang berakibat tidak saja guru-guru banyak kehilangan pekerjaan tetapi juga menghambat kamajuan rakyat.
Anggota “Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri” (PVPN) adalah sebagai berikut :
1.      Perhimpunan Pegawai Spoor dan Tram (PPST) dengan 6.000 anggota
2.      Persatuan Guru Indonesia (PGI) dengan 13.000 anggota
3.      Vereninging van Indonesisch Perseneel bij de irrigatie, Waterstaat en Waterschappen (VIPIW)dengan anggota 6.000
4.      Perhimpunan Pegawai Pengadaian Bumuputera (PPPB) dengan 3.544 anggota
5.      Landelijke Inkomstenbond (LIB) dengan 496 anggota
6.      Kadasterbond dengan 219 anggota
7.      Perserikatan Kaum Sekerja Boswezen (PKSB) dengan 1.350 anggota
8.      Vereniging van Ambtenare dan Middelbare Opleiding bij de Landbouw en Aanverwante Diensten (VAMOLA) dengan 250 anggota
9.      Persatuan Pegawai Mijbouw (PPMB) dengan 105 anggota
10.  Perhimpunan Kaum Verpleger, Verpleegster dan Vroedvrouwen Indonesia (PKVI) dengan 1.362 anggota
11.  Vereniging van Middelbare Personeel bij de Post, Telegraaf en Telefoondienst (Midpost) dengan 650 anggota
12.  Persatuan Pegawai Algemene Volksscredietbank (PPAVB) dengan 1.800 anggota
13.  Opiumregiebond Luar Jawa dan Madura (ORBLJM) dengan 200 anggota
14.  Persatuan Pegawai Post, Telegraf dan Telefoon Rendahan (PTTR) dengan 6.000 anggota
15.  Vereniging van Opzichters bij de Land, Tuinbouw en Aanverwante Diesten (VOLTA) dengan 70 anggota
16.  Perserikatan Mantri bij de Malariabestrijding (PMMB) dengan 42 anggota
17.  Persatuan Pegawai Pestbestrijding (PPP) dengan 175 anggota
18.  Opiumregiebond Hindia Belanda (ORBHB) dengan 200 anggota
Jumlah anggota   PVPN pada 1 Desember 1939 ada 41.521 orang. Persatuan Guru Indonesia (PGI) terjadi dari greopsdond :
a.       Hogere Kweekschoolbond (HKSB)
b.      Oud  Kweekscholierenbond (OKSB)
c.       Persatuan Normaalschool (PNS)
d.      Persatuan guru Ambachtsschool (PGAS)
e.       Volksoderwijzersbond (VOB)

Perkembangan berikutnya PGHD berganti nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1933 sebagai akibat dari dikeluarkannya peraturan pemerintah mengenai sarekat sekerja pegawai negeri. Bertukarnya nama Hindia Belanda dengan nama Indonesia merupakan geledek di siang bolong bagi penjajah. Karena nama Indonesia termasuk istilah yang paling tak disenagi oleh penjajah Belanda, tetapi paling dirindukan dan diidam-idamkan setiap putera Indonesia, termasuk para guru.
Baik juga dicatat di sini bahwa di samping PGI adalagi berbagai bond yang bercorak agama, bangsa dan sebagainya, seperti : Nederlands Indische Onderwijsgenootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama, Christelijke Onderwijs Vereniging (COV), Khatolieke Onderwijsbond (KOB), Vereniging Van muloleerkrachten dan lain-lain.
Pada kongres ke-23  di Surabaya tanggal 2-6 Januari 1934, PGI yang telah mempunyai 20.000 anggota membicarakan kedudukan para guru berhubungan dengan krisis dan penghematan gaji pegawai negeri.
Perjuangan PGI itu tidak seluruhnya berjalan mulus, Persatuan Guru Bantu (PGB) pada bulan Juli 1934 mengundurkan diri dari PGI karena dianggap kurang tegas didalam mempertahankan kepentingan golongan Guru Bantu. PGB menyalahkan sikap PGI dengan diberlakukannya peraturan gaji baru oleh pemerintahan yang sangat menjatuhkan kedudukan dan gajinya. Meskipun PGB mengundurkan diri, perkumpulan guru-guru lainnya tetap bersatu dalam PGI., antara lain PGAS, VOB, Oud Kweekschool Bond (OKSB), PNS, dan HKSB.
Kongres PGI ke-25 tanggal 25-29 Novemper 1936 di Madiun, isinya menentang maksud pemerintah untuk memindahkan urusan pengajaran dari tangan pemerintahan pusat ke tangan pemerintahan daerah, berhubung kurang perlengkapan dan terbatasnya keuangan pemerintah daerah, dan dikhawatirkan dapat berakibat pada kemunduran pengajaran. Di dalam kongres PGI ke-26 yang diadakan pada bulan Nopember 1937 di Bandung bertepatan dengan peringatan dua puluh lima tahun berdirinya PGI, dirumuskan supaya diadakan wajib belajar. Selanjutnya di dalam kongres PGI tahun 1938 yang diselenggarakan di Malang, diputuskan antara lain perlunya perbaikan gaji para guru dan menuntuk agar pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan ke daerah harus didahului dengan perbaikan keuangan daerah.
Perang dunia pecah. Tahun 1940 negeri Belanda diduduki Jerman. Pada tahun 1941 semua guru-guru laki-laki (Belanda)ditugaskan masuk milisi. Untuk mengisi kekosongan guru, beberapa sekolah sejenis digabung. Kekosongan itu diisi oleh guru-guru Indonesia.
Pada pemerintahan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup,. Secara otomatis segala pendidikan menjadi beku.



2.4.            Keadaan Pendidikan pada Masa Penjajahan Jepang
Dalam bulan Februari 1942 tentara Jepang menduduki Indonesia. Pertahanan sekutu yang bernama ABCD front di Asia Timur, berantakan tak berdaya menghadapi bala tentara Dai Nippon. Pemerintahan tentara pendudukan Jepang melarang pengunaan bahasa Belanda dan Ingrris. Diperintahkannya agar disampaing bahasa resmi di sekolah-sekolah dan bahasa Jepang dipelajari dan diajarkan juga.
Lagu Indonesia Raya diperbolehkan disamping lagu Kimigayo. Akan tetapi semua perkumpulan atau perserikatan dilarang. Jadi PGI pun tak berdaya. Kebudayaan Indonesia dihormati mereka karena Jepang menganggap dirinya saudara tua pemimpin Asia.
Sejak itu sekolah-sekolah diberi nama Indonesia dan Jepang. Sekolah Dasar diberi nama “Syo Gakko”, sekolah Menengah “Cu Gakko”, dan Sekolah Tinggi “Dai Gakko”.
Bulan September 1942 Pemerintahan Jepang mulai membuka Sekolah Menengah Pertama dan Atas, termasuk sekolah-sekolah kejuruan termasuk seperti “Sihan Gakko” (Sekolah Guru), “Kasei Jo Gakko” (Sekolah Kepandaian Putri) dan lain-lain.
Guru-guru Indonesia dengan semangat kebangsaan masih tetap bekerja di bawah pemerintahan Belanda.
Di Ibu Kota Indonesia Jakarta, Amin Singgih mendirikan perserikatan dengan nama “GURU” bersama kawan-kawannya untuk memberikan teladan nyata bahwa guru-guru Indonesia itu tetap memupuk rasa kesatuan Nasional. Peristiwa ini terjadi dalam tahun 1943. Dalam tahun 1943 juga Sdr. Gustam Effendy, Adnam dan Hamid mendirikan perkumpulan kesenian yang bernama “kesta” (Kesenian kita). Wadah ini banyak mengumpulkan uang menyokong Pemerintah militer Jepang. Akan tetapi pada awal revolusi Indonesia dalam bulan Agustus sampai dengan Desember 1945 banyaklah “kesta”ini mengumpulkan uang yang disumbangkan kepada Fonds Kemerdekaan Inonesia di kota Palembang. Pemuda-pemuda Indonesia pada waktu revolusi kemerdekaan 1945 itu membentuk “BKR” dan pelbagi sejenis organisasi perjuangan untuk mempertahankan kemerdakaan RI. Adapun BKR itu ialah singkatan dari Badan Keamanan Rakyat yang menjadi pokok pangkal “Tentara Nasional Indonesia” (TNI).
Pemerintah militer Jepang ingin agar rakyat Indonesia bersatu padu untuk membantu mereka menghadapi  tentara Sekutu. Oleh sebab itu semua daya upaya dilakukannya untuk mengambil hati bangsa Indonesia. Mereka mengatakan bahwa merekan dating tidak untuk menjajah sesama bangsa Asia, tetapi melepaskan belenggu penjajah orang kulit putih. Mereka pemimpin Asia, cahaya Asia dan kekuatan Asia (Gerakan 3 A).
Orang Jepang sangat menghargai waktu dan sangat berdisiplin. Mereka sangat rajin dan berpengerahuan teknik yang tinggi. Mereka memerlukan materi dan tenaga untuk mencapai kemenangan. Berates-ratus ribu tenaga buruh kasar bangsa Indonesia dijadikan “Romusa” untuk membangun jalan, pelabuhan, lapangan terbang dan lain-lain.
Tentara pembantu yang dinamai “Heiho”. Barisan pemuda “Seinedan”, perkumpulan wanita “ Fujikai”. Organisasi rakyat dibentuk dan dikerahkan dengan maksud untuk melatih rakyat membantu mereka. Semuanya dilakukan dengan disiplin militer yang sangat keras. Semuanya itu minta pengorbanan jiwa dan harta yang sangat hebat dari bangsa Indonesia. Makanan, pakaian, dan lain-lain keprluan hidup rakyat dikuasai oleh militer dan dibagi-bagikan.
Penderitaan rakyat tidak terkira lagi. Akan tetapi di dalam derita dan duka nestapa ini ada juga hikmahnya bagi bangsa kita. Orang-orang Jepang itu mengajarkan pada kita untuk bekerja dengan cekatan dan terampil di segala bidang. Rasa harga diri bangsa Timur dibangungkannya. Mereka memerlukan tenaga pembantu untuk membangun cita-cita mereka yang sangat besar yaitu, untuk memenangkan “Peperangan Asia Timur Raya”(Dai Toa Sensoo). Untuk memperkuat pertahanan di garis belakang, bangsa kita dilatih di bidang pertanian dan perindustrian. Pabrik barang-barang keperlan sehari-hari dibangun mereka, seperti pabrik tekstil, pabrik paku, galangan kapas dan lain-lain. Perkebunan kapas, kepala sawit, jarak dan tumbuh-tumbuhan lain untuk makanan diwajibkan bagi rakyat. Untuk memperkuat garis depan bangsa Indonesia dilatih di bidang kemiliteran dan membuat persenjataan sendiri. Untuk menjabat opsir (perwira) diadakan sekolah atau pusat-pusat latihan kemiliteran seperti “Gyugun” di Sumatra dan “Peta” ( Pertahanan Tanah Air) di Jawa. Semua ini pada jaman penjajahan Belanda adalah tabu, karena Belanda takut akan akibatnya bagi diri mereka sendiri. Bagi orang Jepang tidak demikian. Mereka membangkitkan semangat keberanian bangsa Asia (Timur) dengan tujuan menjunjung falsafah turunan Amaterasu O’Mikami ialah “Hakkoo Iciu), yang maksudnya ialah, bahwa semua bangsa disegenap kolong langit di muka bumu ini haruslah bersatu di bawah pimpinan bangsa Dai Nippon. Sebagaiman yang tejadi, sejarah telah membuktikan, bahwa hasil pelajaran mereka ini akhirnya dipakai oleh bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaannya sendiri dari tangan penjajah.
Jenderal-jenderal kita seperti Soedirman, A. H. Nasution, Alamsyah, Rya Kudu dan lain-lain, adalah hasil pendidikan militer Jepang. Orang-orang Jepang itu tahu bahwa sumber kemajuan dan kekuatan suatu bagsa adalah pendidikan. Pendidikan itu perlu untuk kebangunan dan pembangunan suatu bangsa. Pendidikan yang baik haruslah dilahirkan oleh guru-guru yang baik pula. Orang Jepang sangat menghormati kaum guru. Guru dan dokter mendapat panggilan kehormatan dari oaring Jepang dengan sebutan “Sensei” yang berarti “mula-mula hidup” atau yang dahulu sekali hidup (orang yang tertua).
Untuk mendidik calon guru yang baik, dibukalah sekolah guru yang dinamai ”Sihan Gatakaoo”, pada tahun 1944 dibuka pula di ibu kota pulau Sumatra (Bukit Tinggi) sebuah sekolah guru utama yang bernama “Joo Kyuu Sihan Gakko”. Yang diambil menjadi muridnya guru-guru yang terbaik daerah-daerah Keresidenan (Syuu). Jumlahnya terbatas sekali. Untuk angkatan pertama dari Lampung Syuu diterima diantaranya M. Nur Asyikin, Raja Sangun, dari Palembang, Syuu Madian, Gustam Effendy. Waktu itu juga di daerah Batu Sangkar dibuka sekolah “Joo Kyuu Kanri Gakko” yaitru sekolah untuk pamong praja (camat atau asisten wedana) yang terpilih. Para gakusei (mahasiswa) dari Joo Kyuu Sihan Gakko waktu itu diberi berpakaian seragam lengkap dengan celana panjang, sedangkan sekolah-sekolah lainnya berseragam celana pendek semuanya.
Waktu “Gunseikang” (gubernur) dan orang-orang besar dari Tokyo mengunjungi sekolah-sekolah utama itu, maka Joo Kyuu Sihan Gakkoo-lah pertama kalinyan dikujungi mereka. Ini membuktikan tingginya pandangan bangsa Jepang terhadap kaum guru.
Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa Jepang yang kemajuannya memukau dunia ini, dahulu asalnya dari “Meijirestorasi” yang memajukan pendidikan bangsa Jepang lebih dahulu dari bidang manapun.
Kepada bangsa Indonesia, menjelang akan berakhirnya perang dunia kedua, oleh bangsa Jepang dijanjikan akan diberi kemerdekaan. Sebab itu merekan membentuk suatu badan yang bernam “Indonesiano Dokuritsuno Jummbi” (Perserikatan Kemerdakaan Bangsa Indonesia) di Jakarta. Disamping itu dipersiapkan juga “Gimu Kyioiku no jumbi” (Perseiapan Kewajiban Belajar).
Dengan pendudukan militer Jepang itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada suatu perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia. Walaupun kita harus membayar dengan harga yang sangat mahal, akan tetapi ada juga imbalannya yang sangat besar, yaitu kebangunan dan persatuan bangsa kita. Kita bangun serentak dalam waktu yang sangat singkat dan bersatu padu dari Sabang sampai Merauke merebut kemerdekaan kita. Pemimpin besar bangsa Indonesia Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tangga 17 Agustus 1945.
Di jaman pendudukan Jepang itu pernah Sutan Syahrir masuk barisan romusha dan bekerja sangat berat demi kepentingan perjuangan dibawah tanahnya. Dia melakukan penyamaran-penyamaran dan menyerempet bahaya kekejaman Kempeitei Jepang yang sangat terkenal. Akhirnya bangsa jepang kala dalam perang dunua II dan bangsa Indonesia memperoleh kesempatan tepat dan baik untuk merebut dan menentukan kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia yang tercinta.
Dalam peyerbuan ke Indonesia tentara Jepang tidak banyak mengeluarkan tenaga. Ini terbukti dari penyerahan tanpa syarat angkatan perang Belanda dalam beberapa hari saja.
Jepang mengutahui betul bahwa masyarakat Indonesia merasa kecewa terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Pengetahuan ini dihimpun oleh orang-orang Jepang yang di mana-mana membuka toko, atau pergi ke desa-desa untuk menjual barang-barabg dengan tunai atau dengan cara “membon” (banyak bon ini di kemudian hari tidak pernah ditagih). Mereka bersikap sangat sopan terhadap bangsa Indonesia, dan harga barang-barang nya sangat murah.semua ini sangat menawan hati rakyat orang-orang jepang ini kemana-mana selalu membawa pemotret dan membuat foto-foto. Pada waktu-waktu tertentu mereka pulang ke negerinya untuk memberikan laporan. Kemudian hari ternyata bahwa mereka itu di jepang mempunyai kedudukan militer.
Rasa kecewa bangsa Indonesia terhadap Belanda itulah yang akhirnya meringngankan Jepang. Pada waktu itu simpati umum terhadap Jepang besar sekali.
Di samping itu propaganda Jepang di lakukun secara sempurna sekali. Siaran radio dari Tokyo yang di dengarkan secara rahasia oleh orang-orang Indonesia menimbulkan pengharapan umum untuk segera dapat bebas dari penjajahan Belanda dan mendapat kemerdekaan. Siaran itu di mulai dengan lagi Indonesia Raya yang kemudian di sambung dengan pidato-pidato dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato ini mendapat perhatian besar dari pendengar-pendengar bangsa Indonesia. Rakyat Nampak terpikat oleh Jepang. Apalagi setelsh membaca pamphlet-pamflet yang berisikan pernyataan pemerintah Jepang, bahwa serbuan bertujuan untuk memerdekakan bangsa Indonesia.
Pada waktu tentara Jepang baru menduduki Indonesia pegawai bangsa indonesia tetap memegang jabatanya semula.kecuali orang-orang Belanda yang merupakan tenaga ahli yang tetap di pakai, semua pegawai Belanda di tangkap dan digantikan oleh tenaga Jepang atau Indonesia.
Kesulitan-kesulitan yang semula di derita oleh pemerintahan baru ialah tidak adanya uang, karena semua telah di bawa lari oleh Belanda. Tetapi tidak lama kemudian uang Jepang mulai mengalir ke Indonesia.
Orang tidak sangsi lagi, bahwa saudara tua ini benar-benar akan memberikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu semua keinginan dan perintah dari Jepang di taati oleh masyarakat.
Semangat anti imperialis dan membenci Sekutu, begitu pula semangat nasionalis di korbankan. Pemuda-pemuda di lantik sebagai militer dengan dipersanjatai bambu runcing. Penduduk di latih membasmi kebakaran. Latihan Palang Merah tidak ketingalan. Para pemuda terpelajar di jadikan anggota PETA. Di katakana bahwa semua kegiatan ini diadakan untuk kepentinga nasional dan untuk menentang tiap-tiap usaha bangsa asing yang ingin menjajah Indonesia lagi. Para pemuda rela untuk melakukan apa saja guna menentang kemungkinan datangnya penjajah kembali. Lagu kebangsaan Jepang “Kimigayo” dan teriakan “banzai” berkumandang di mana-mana.
Ribuan pemuda ikut dengan tentara Jepang sampai keluar Indonesia sebagai Heiho. Puluhan ribu anggota masyarakat dengan pengorbanan yang tidak sedikit dipekerjakan Sebagi romusa membuat lapangan-lapangan terbang, jalan-jalan, rel kereta api, dan jembatan-jembatan yang diperlukan oleh tentara Jepang.
Setiap hari terlihat pemuda pemudi berbaris secara militer. Supaya orang berfikir cerdas kesehatan badan harus dipelihara dengan berolahraga atau taiso. Pada waktu-waktutertentu radio umum meyiarkan pelajaran taiso. Semua orang yang lewat harus berhenti dan ikut berolah raga.
Semua ini sesungguhnya hanya siasat belaka pemerintah Jepang untuk mendapatkan tenaga di front belakang dalam menghadapi Sekutu yang serangannya makin hari makin menghebat. Dalam pada itu ini dipergunakan oleh para pemimpin Indonesia untuk mengobar-obarkan rasa kebangsaan.
Seni suara dan sandiwara diberi fasilitas cukup. Hal ini sesungguhnya hanya ditujukan kea rah semangat sebentar dan memuji-muji Dai Nippon rombongan bioskop keliling sampai kepelosaok-pelosok desa mempertujukan kemenangan angkatan perang Jepang di mana-mana. Sebelum pertunjukan di mulai di layar putih selalu diperlihatkan debgan tulisan yang benar-benar kalimat “Alhamdulillah, Asia telah kembali kepada Asia”
Sekolah-sekolah yang sudah lama ditutup dibuka kembali. Bahasa Belanda dan Inggris dilarang diganti dengan pelajaran bahasa Nippon dengan huruf katakana dan kanji. Untuk bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan dipergunakan di kantor-kantor. Lantaran tidak sengaja menggunakan bahasa Belanda seseorang dapat ditempeling atau ditendang, bahkan dimasukkan ke dalam penjara dengan tuduhan mata-mata.
Dalam hal berpakaian sangat kurang sekali. Banyak orang yang terlihat dengan pakaian yang compang-camping atau dibuat dari goni. Bahkan makin hari pakaian makin kurang.
Alat-alat Negara bangsa Indonesia mulai rendah juga, karena banyak jabatan penting yang diduduki oleh orang-orang Jepang. Mereka melihatkan sikap bahwa merekalah yang paling berkuasa.
Menghormati dan membungkuk terhadap bendera Nippon Tenno Heika lambat laun dirasakan bertantangan dengan agama. Puncak kekecewaan terhadap Jepang disebabkan adanya larangan untuk lagu Indonesia Raya dan mengucapkan kata Merdeka.
Mulailah timbul rasa kesaingan terhadap maksud Jepang untuk melepaskan Indonesia dikemudian hari. Orang mulai merasa ditipu dan berani kepada Jepang. Bantuan kepada Jepang mulai berkurang. Begitu pula sering terjadi orang yang ditempeling oleh orang Jepang.
Bahkan di sana-sini mulai timbul pemberontakan keci-kecilan, seperti di Blitar (Peta), Indramayu dan lain-lain.
Akhirnya tersiarlah berita secara rahasia bahwa Jepang kalah dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu.
Angkatan perang Jepang di Indonesia terpaksa meletakkan senjata dan berkewajiban untuk menjaga keamanan selama penyerahan pemerintah kepada sekutu belum dilakukan.
Dalam saat inilah meletus dengan hebatnya semangat revolusi bangsa Indonesia. Perkelahian dan pertempuran dengan Jepang terjadi di beberapa daerah, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Dengan bersenjata bamboo runcing pemuda-pemuda kita menyerbu Jepang di mana-mana. Pekik Merdekan dan teriakan siap (seruan untuk berkumpul) bergelora di angkasa. Teriakan siap inilah yang kemudian hari sangat ditakuti oleh orang Nica.
Dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 Negara Indonesia Merdeka diproklamasikan.
Walaupun Jepang meninggalkan riwayat yang tidak baik di Indonesia, penuh dengan kebihingan dan kekejaman, namunharus diakui pula bahwa dalam beberapa hal mereka membawa kebaikan juga bagi perkembangan masyarakat Indonesia.
Pertama : Hal cinta kepada Tanah Air tidak lagi hanya tinggal di bibir saja. Bangsa Indonesia bersedia berkorban segala-galanya, jiwa dan raganya, untuk menentang tiap-tiap gunguan yang ada di Tanah Airnya.
Kedua : Rasa harga diri nampak dan tumbuh benar pada masyarakat Indonesia dan menentang tiap-tiap sikap yang dapat merugikan dan mengurangi kehormatan Bangsa dan Tanah Air.
Maka bangsa Indonesia tidak dapat lagi secara cemooh dijuluki sebagai “bangsa yang paling lemah lembut di dunia”.
Sedangkan akibat yang negatif yang dialamin oleh bangsa Indonesia selama panjajahan Jepang antara lain :
a.       Korban jiwa akibat kerja Rodi
b.      Penderitaan lahir dan batin yang diderita oleh penduduk Indonesia
c.       Rusaknya mental bangsa Indonesia karena banyak yang menderita kelaparan
d.      Hilangnya harta benda rakyat Indonesia yang dirampas oleh Jepang



2.5.                        Perjuangan Guru pada Masa Penjajahan Jepang
Jepang mulai menguasai dan menjajah Indonesia sejak belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati (Bandung) tanggal 8 Maret 1942. Sejak saat itulah penjajahan bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia berakhir untuk selama-lamanya. Lepas dari bangsa Belanda, Indonesia jatuh ke tanggan Jepang  selama tiga setengah tahun (Maret 1942 – Agustus 1945) Indonesia dijajah Jepang.
Bagi Jepang, guru dipandang sebagai orang yang sangat dihormati. Sang guru mendapat kehormatan dengan julukan Sensei, yang mempunyai kedudukan sosial yang sangat dihormati. Begitu pula oleh murid-muridnya di sekolah yang berbeda dengan sekarang (kurang penghargaan). Jepang mungkin sangat berterima kasih kepada guru yang telah berjuang mempropaganda misinya pada masyarakat luas, khususnya pada siswa. siswa sendiri begitu tundu, sopan, hormat dan segan pada guru sehingga kedudukan guru pada waktu itu terpandang secara jabatan ketimbang moral.
Berbeda dengan masa panjajahan Hindia Belanda dimana guru-guru membentuk wadah organisasi PGHD atau PGI sebagai wadah perjuangannya, pada zaman penjajahan Jepang dapat dikatakan tidak ada wadah yang menaunginya. Organisasi guru secara khusus tidak dapat hidup seperti juga partai-partai atau organisasi masa Indonesia selain yang bukan ciptaan Jepang. Hal itu diakibatkan pemerintah Jepang telah mengeluarkan Undang-undang yang melarang adanya pergerakan politik di Indonesia.
Sikap para pejuang bangsa Indonesia termasuk para guru, dalam bentuk luarnya tidak berbuat apa-apa kecuali mengikuti apa yang dikehendaki oleh Jepang. Tetapi secara illegal secara cermat memanfaatkan setiap ada kesempatan untuk malawan Jepang. Jadi para tokoh-tokoh perjuangan termasuk para guru cara berjuangnya yaitu secara legal dan illegal.
Secara legal menempuh bekerja sama dengan Jepang yaitu menduduki lambaga-lembaga pemerintahan dan menjadi guru di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Jepang, serta menduduki organisasi-organisasi buatan Jepang. Sedangkan yang bergerak secara illegal berjuang menurut caranya sendiri-sendiri mereka bergerak lebih berhati-hati agar tidak diketahui oleh Jepang.
Kalau diikuti perjuangan pada saat itu maka perjuangan guru sangat berat karena harus bermuka dua. Apabila ketahuan sangsinya sangat berat. Meskipun demikian para guru tidak takut, pernah di Jakarta dibentuk perserikatan guru dengan nama “GURU” yang dipimpin oleh Amir Singgih organisasi guru yang sudah ada (PGI) dibekukan oleh Jepang sehingga tidak dapat bergerak. Para guru terpaksa mencari jalan lain untuk dapat berjuang yaitu masuk dalam organisasi yang di buat Jepang. Misalnya menjadi anggota dari Gerakan 3A, Putera, Peta, anggota Keibondan (Pembantu Keamanan Kampung), Seinendan (organisasi pemuda yang mendapat latihan militer) serta anggota Fujikai (organisasi guru wanita). Organisasi-organisasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia termasuk para guru, para pendidik unuk mempercepat timbulnya kesadaran nasional.
     Perjuangan para guru dan semua rakyat indonesisa semakin berhasil. Jepang semakin terdesak oleh Sekutu, Jepang terpaksa lebih mendakati pada rakyat Indonesia yaitu menyanyikan kemerdekaan, apabila rakyat Indonesia membantu Jepang dalam melawan tentara Sekutu/Amerika, Britisch, China, dan Dutch.
Kalau dicermati dengan sungguh-sungguh perjuangan para guru pad masa penjajahan Jepang, maka para guru berjuang sangat hati-hati menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Kadang-kadang non koperasi, kadang-kadang koperasi, kadang-kadang legal, dan kadang-kadang illegal.  





















BAB III
PENUTUP

3.1.            Kesimpulan
Pada masa penjajahan baik penjajaha Belanda maupun penjajahan Jepang, guru mendapatkan penghargaan dan dihormati. Pada masa panjajahan Jepang, guru dianggap sebagai panutan untuk masyarakat, pemimpin masyarakat, dipanggil ndoro guru dengan status ekonomi yang cukup tinggi.
Namun dibalik penghagaan yang di dapat para guru tersebut, mereka juga mengalami penderitaan yang sangat mendalam. Para guru juga merasakan bagaimana sulitnya memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan kemerdekaan Indonesia.
Perjuamgan guru yang sangat besar pada masa penjajahan sekarang sudah tidak ada artinya lagi. Guru pada jaman sekarang sudah tidak mendapatkan penghormatan oleh masyarakat. Jangankan guru, para pejuang kita yang masih hidup pun sekarang tidak mendapatkan kesejahteraan di masa tuanya. Bahkan banyak ysekali mantan pejuang kita yang hidupnya memprihatinkan, termasuk para guru yang tidak lagi mendapat kedudukan tertinggi di kalangan masyarakat. Padahal para guru juga ikut memperjuangkan kemerdekaan yang kita rasakan saat ini.





3.2.            Saran
-       Pemerintah harus lebih memperhatikan lagi kesejahteraan guru
-       Sebaikknya masyarakat sekarang lebih menyadari betapa berharganya guru dan tidak menyepelehkan profesi guru
-       Sebagai mahasiswa sebaiknya lebih memperhatikan jalanya kesejahteraan guru
-       Sebagai siswa hargailah gurumu.
-       Sebagai guru sendiri lebih meningkatkan kinerjanya di dalam mencerdaskan anak bangsa.