KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada
Allah s.w.t karena hanya dengan ridho_Nya penulis dapat menyelesaikan makalah
ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah ke-PGRI-an. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Terutama Bapak
Drs. Hartono. selaku dosen yang telah menugaskan penyusunan makalah ini.
Penulis merasa bahwa dalam penulisan
makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun guna penyusunan selanjutnya.
Semoga dengan disusunnya makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan tak lupa bagi pembaca
umumnya.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I ................................................................................... PENDAHULUAN
1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 2
C. Tujuan ............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A. Pengertian Guru ................................................................................ 3
B. Keadaan Pendidikan di Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda ... 5
C. Perjuangan Guru pada Masa Penjajahan Belanda .......................... 14
D. Keadaan Pendidikan pada Masa Penjajahan Jepang ...................... 21
E. Perjuangan Guru pada Masa
Penjajahan Jepang.............................. 31
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 34
A. Kesimpulan......................................................................................
34
B. Saran................................................................................................ 35
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 36
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Di
dalam kebudayaan bangsa Indonesia, profesi guru mempunyai kedudukan paling
tinggi dan dihormati oleh masyarakat. Masyarakat jawa mengenal ungkapan “guru,
ratu, wong tuwo karo” artinya adalah taatilah pertama-tama gurumu, lalu rajamu,
kemudian kedua orang tuamu. Penghargaan guru tersebut juga terjadi pada masa
kolonial, dimana status profesi guru mempunyai kedudukan yang terhormat karena
itu guru dihargai oleh masyarakat. Mereka dianggap panutan masyarakat, pemimpin
masyarakat, dipanggil ndoro guru
dengan status ekonomi yang cukup tinggi. Pada masa kolonial, memang status profesi
guru relatif tinggi.
Pada
masa penjajahan Jepang, sang guru mendapat kehormatan dengan julukan “Sensei”
yang sesuai dengan kebudayaan Jepang dimana guru mempunyai kedudukan sosial
yang sangat dihormati. Selanjutnya pada masa pasca kemerdekaan sekitar tahun
1950-an, profesi guru pernah menjadi dambaanorang. Dalam berbagai daerah, ambil
contoh di kawasan Indonesia Timur, yang dicari adalah pegawai negeri atau guru.
Dengan
perkembangan jaman dan pola fikir masyarakat, terjadilah pergeseran anggapan
tentanng guru, berkaitan dengan perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya
masyarakat. Profesi guru bukanlah merupakan pilihan utama dan bergensi, bahkan
status profesi guru lebih rendah dibandingkan dengan profesi lain seperti
dokter, hakim, teknisi, dan bahkan buruh sekalipun. Profesi guru semakin
terpuruk, khususnya guru Sekolah Dasar (SD) yang terkesan “terbelakang”
kesejahteraannya. Padahal keprofesian guru menuntut kecakapan dan usaha
intelektual yang tinggi, serta pendidikan formal yang cukup tinggi.
Selain
itu, Guru juga mempunyai peranan penting di dalam memperjuangkan dan merebut
kemerdekaan. Namun tidak banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Oleh sebab
itu, makalah ini di tulis untuk menjelaskan bagaimana pentingnya tokoh seorang
guru dan seberapa besarnya peranan guru di dalam berjuang melawan penjajah.
1.2.
Rumusan Masalah
Dari
uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
a.
Apa pengertian dari guru ?
b.
Bagaimana pendidikan di jaman
penjajahan Belanda ?
c.
Bagaimana perjuangan guru pada
masa penjajahan Belanda ?
d.
Bagaimana pendidikan di jaman
penjajahan Jepang ?
e.
Bagaimana perjuangan guru pada
masa penjajahan Jepang ?
1.3.
Tujuan
Dari
rumusan masalah di atas dapat ditarik tujuan sebagai berikut :
a.
Mengidentifikasi pengertian
guru
b.
Menjelaskan keadaan pendidikan
di jaman penjajahan Belanda
c.
Menjelaskan perjuangan guru
pada masa penjajaham Belanda
d.
Menjelaskan keadaan pendidikan
pada jaman penjajahan Jepang
e.
Menjelaskan perjuangan guru
pada masa penjajahan Jepang
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Guru
Guru adalah seorang
pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa
Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik
Secara etimologis (asal usul kata), istilah
guru berasal dari bahasa Indiayang artinya orang yang mengajarkan tentang
kelepasan dari sengsara. Dalamtradisi agama Hindu, guru dikenal sebagai Maha
Resi guru yakni para pengajar yang bertugas untuk menggembleng para calon biksu
di bhinaya pantii (tempat pendidikan bagi para biksu). Dalam bahasa Arab, guru
dikenal dengan almu'alimatau ustadz yang bertugas memberikan ilmu dalam majelis
taklim (tempat memperoleh ilmu). Dengan demikian, al-mu'alim atau ustadz, dalam
hal ini juga mempunyai pengertian orang yang mempunyai tugas untuk membangun
aspek spiritualitas manusia.Dari aspek lain, beberapa pakar pendidikan telah
mencoba merumuskan pengertian guru dengan definisi tertentu.
Menurut Poerwadarminta guru adalah orang yang
kerjanya mengajar. Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Dengan
demikian, pengertian guru inihanya menyebutkan satu sisi, yaitu sebagai
pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih.
Sementara itu, Zakiyah Daradjat dikutip dari buku “Menjadi Guru Efektif”
menyatakan bahwa guru adalahpendidik professional karena guru telah menerima
dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak. Dalam hal ini,
orang tua harus tetapsebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Sedangkan guru adalah tenaga professional yang membantu orang tua untuk
mendidik anak-anak pada jenjang pendidikan sekolah. Dari pengertian diatas,
guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dan upaya mencerdaskan
kehidupan bagsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual,
fisikal maupun aspek lainnya berada di lembaga pendidikan sekolah., baik yang
didirikan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat atau swasta Dalam agama Hindu, guru merupakan
simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi
ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.
Dalam agama Buddha, guru adalah orang
yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru
memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.
Dalam agama Sikh, guru mempunyai
makna yang mirip dengan agama Hindu dan Buddha, namun posisinya lebih penting
lagi, karena salah satu inti ajaran agama Sikh adalah kepercayaan terhadap
ajaran Sepuluh Guru Sikh. Hanya ada sepuluh Guru dalam agama Sikh, dan Guru pertama, Guru
Nanak Dev, adalah pendiri agama ini.
Orang India, China, Mesir, dan Israel menerima pengajaran
dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi. Oleh sebab itu seorang guru
sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai
pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua
mereka
Jadi dapat disimpulkan bahwa guru adalah
pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini
jalur sekolah atau pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
2.2.
Keadaan Pendidikan di Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda
Keadaan
pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda sangat memprihatinkan baik
dari segi pendidikan, guru, dan sekolahnya.
2.2.1.
Pendidkan dan Sekolah
Pada
jaman Protugis dan spanyol mulai didirikan sekolah-sekolah model baru,
berlainan dengan sekolah-sekolah pesantren. Di sekolah ini tidak hanya
diajarkan tentang agama namun juga diajarkan membaca, menulis, dan berhitung.
Sekolah-sekolah ini hanya berada di kepulauan Maluku sampai kedatangan VOC di
Indonesia. VOC berkuasa di Indonesia pada tahun 1600-1800. VOC ini juga
mengadakan sekolah-sekolah di daerah kekuasaan mereka seperti kepulauan Maluku,
di beberapa pulau di kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), di Batavia
(Jakarta), dan di Semarang.
Sekolah-sekolah
Belanda ini diadakan 2 jam pada waktu pagi dan 2 jam pada waktu sore hari. Pada
mulanya bahasa pengantar yang dipergunakan adalah bahasa Belanda, akan tetapi
karena hasilnya tidak memuaskan maka diganti dengan bahasa Melayu. Anak-anak
tidak teratur didalam bersekolah karena mereka harus membantu kedua orang
tuanya. Gurunya berkebangsaan Belanda dan kebanyakan tidak mendapatkan latihan
sebagai guru. Pelajaran yang diberikan hanya terdiri dari agama, menyanyi,
membaca, menulis dan berhitung. Orang-orang yang sudah tamat sekolah harus
berkumpul dua kali dalam seminggu untuk kelas-kelas lanjutan.
Pada
tahun 1684 diumumkan Undang-Undang Sekolah pertama, yang isinya antara lain :
-
Untuk mendirikan sekolah harus
seijin pemerintah
-
Jam pelajaran sekolah jam
08.00-11.00 dan jam 14.00-17.00
-
Dilarang adanya pelajaran campuran
antara anak laki-laki dan perempuan
-
Hari libur dan uang sekolah
diatur pemerintah
-
Sekolah-sekolah dimonitoring 2
kali setahun
Pada
tahun 1778 dikeluarkan Undang-Undang yang baru, yang isinya antara lain :
-
Tiap-tiap sekolah dibagi dalam
3 kelas
-
Di kelas satu diajarkan
membaca, menulis, berhitung, menyanyi, dan agama
Pada
tahun 1800 VOC dibubarkan, Indonesia dijajah secara langsung oleh pemerintahan
Belanda. Dalam bidang pendidikan hampir sama dengan VOC hanya sekarang
pendidikan diperbanyak akibat pengaruh dari Liberalisme. Gubernur Jendral
Daendels (tahun 1808-1811) memerintahkan kepada para Bupati di Jawa untuk mendirikan
sekolah-sekolah pribumi.
Tahun
1830 Pemerintah Belanda memerintahkan kepada para Bupati dan Residen untuk
mendirikan sekolah pribumi dengan mata pelajaran budi pekerti, membaca, dan
menulis.
Tahun 1850
pemerintah mendirikan Sekolah Dasar Missie (Zending) di Maluku, Manado, Timor,
Jawa, dan Kalimantan. Tahun 1852 didirikan sekolah guru. Tahun 1867 didirikan
Depertemen Pendidikan yang bertanggung jawab terhadap permasalahan pendidikan.
Tahun
1871 Pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan peraturan yang isinya :
-
Jumlah pendidikan guru ditambah
-
Sekolah-sekolah dasar
diperuntukkan bagi anak golongan nigrat dan umum
-
Pelajaran diberikan dengan
bahasa daerah
-
Mata pelajaran yang diberikan
dalah membaca, menulis dan berhitung
-
Mata pelajaran pilihan
berhitung, ilmu bumi, sejarah, biologi, pertanian, menggambar, penelitian,
menyanyi, dan bahasa Belanda
-
Semua pengeluaran kecuali uang
sekolah ditanggung oleh pemerintah
-
Agama tidak boleh diajarkan di
sekolah pemerintah
Tahun
1892 dikeluarkan peraturan pemerintah :
-
Ada sekolah tingkat I untuk
anak-anak tingkat dasar
-
Ada sekolah tingkat II untuk
masyarakat umum
Sekolah-sekolah
yang didirikan oleh pemerintah Belanda semakin bertambah jumlahnya dan
berjenis-jenis. Hal ini memang disengaja oleh pemerintah Belanda dalam rangka melaksanakan
politik devide et empera dalam bidang pendidikan di Indonesia.
Sampai
dengan tahun 1937 sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintahan Belanda
adalah :
a.
Sekolah Desa
Sekolah desa ini diseduaikan dengan kehidupan desa. Lama pelajaran 3
tahun, selama dua setengah jam sehari.
Di sini diajarkan bahasa daerah, berhitung, yang berguna untuk
kehidupan sehari-hari, membaca menulis dengan huruf daerah dahulu dan kemudian
huruf latin.
Jumlah sekolah desa tahun 1921 ada 8000 buah dengan murid 543.000
orang.
b.
Sekolah Kelas Dua
Sekolah Kelas Dua untuk umum. Waktu Sekolah Desa diadakan, beberapa
Sekolah Kelas Dua ini dijadikan “Standaard School” atau “Vervolgschool”, yaitu
sekolah sambungan bagi sekumpulan Sekolah Desa yang berdekatan, dengan maksud
supaya pengajaran sama dengan pengajaran di Sekolah Kelas Dua biasa. Lama
pelajaran 2 tahun sesudah Sekolah Desa. Sekolah Kelas Dua pada mulanya terdiri
dari 3 kelas, kemudian ditambah menjadi 4 kelas dan akhirnya menjadi 5 kelas.
Di sekolah ini diajarkan bahasa Melayu. Tamatannya hanya dapat
meneruskan ke Sekolah Normal (untuk calon guru Sekolah Kelas Dua) dan Sekolah
Pertukangan (Ambachtschool).
c.
Schakelschool atau Sekolah
Penghubung
Sekolah ini, selama 5 tahun mengajarkan murid-murid Sekolah Kelas
Dua yang pandai dari kelas 3, 4 atau 5 sehingga mencapai kepandaian setaraf
dengan kepandaian tamatan HIS. Tamatan Schakelschool ini dapat meneruskan
pelajaran ke MULO.
d.
Hollands Inlandse School (HIS)
Lama pelajaran 7 tahun.
Pada sekolah ini diajarkan 3 bahasa, yaitu bahasa Daerah, Bahasa Melayu, dan
Bahasa Belanda. Sekolah ini merupakan dasar bagi anak Indonesia yang ingin
melanjutkan pelajarannya ke MULO, AMS dan Sekolah Tinggi. Yang dapat diterima
di HIS adalah anak-anak bangsawan atau pegawai negeri.
Pada
tahun 1921 jumlah sekolah ini ada 146 buah milik negeri dan 64 buah sekolah
swasta yang mendapat subsidi, jumlah murid seluruhnya ada 400.000 orang.
a.
Europese Lagere School (ELS)
Sekolah rendah untuk bangsa Belanda ini mata
pelajarannya diatur sehingga dapat bersambung dengan sekolah rendah yang ada di
negeri. Lama pelajarannya 7 tahun. Dari 27.000 murid yang ada pada waktu itu,
3.400 anak Indonesia dan 1.400 anak Tionghoa. Murid-murid tamatan ELS yang
dapat surat keterangan dari Kepala
Sekolah dapat diterima di kelas I MULO, yang lulus ujian tertulis dalam
bahasa Belanda dapat diterima di HBS.
b.
Sekolah MULO
MULO itu asal mulanya merupakan dua kelas
tambahan pada ELS kelas I, untuk memberikan pengajaran rendah yang lebih lanjut
kepada tamatan ELS tersebut. Secara berangsur-angsur pelajaran pada kelas ini
ditambah dan lama pelajarannya diperpanjang menjadi 3 tahun.
Pada tahun 1914 telah ada 10 MULO. Pada
tahun 1919 MULO ini dijadikan bagian bawah dari IMS, yang kemudian menjadi AMS.
Pada tahun 1925 terdapat 19 buah MULO negeri
dan 7 buah MULO partikelir. Jumlah murid seluruhnya ada 3.900 orang,
diantaranya 1.635 orang Indonesia.
c.
Algemene Middlelbare School
(AMS)
Sekolah ini didirikan pada tahun 1919 dengan
nama Indische Middlelbare School (IMS). Pada tahun 1919 AMS ini terdapat di
Jogja dengan jurusan Ilmu Hisab dan Ilmu Alam (Wis en Natuurkundige Afdeling).
Kemudian dibuka 2 jurusan lagi, yaitu jurusan bahasa-bahasa Barat dan jurusan
bahasa-bahasa Timur.
d.
Hogere Burger School (HBS)
HBS ini terdapat di Betawi, Bandung,
Semarang dan Surabaya. Lama pelajarannya 5 tahun. HBS yang ada di Indonesia
sama dengan HBS di Belanda.
Dari HBS 5 tahun ini tamatannya bisa masuk
ke Sekolah Perniagaan dan Sekolah Ilmu Pelayaran, yang lama pelajarannya
masing-masing 5 tahun. Terdapat 6 buah HBS partikelir (swasta), tetapi
murid-muridnya semua wanita.
e.
Sekolah Kejuruan
-
Guru Sekolah Desa diambil dari tamatan
Sekolah Kelas II. Selama 2 tahun mereka mengikuti kursus untuk guru desa.
-
Kursus Guru Bantu, yaitu tamatan Sekolah
Kelas II yang mengikuti kursus guru selama 2 tahun sambil mengajar.
-
Normaalschool menerima murid tamatam
Sekolah Kelas II. Lama pelajaran 4 tahun.
-
Kwekschool atau Sekolah Raja, mendidik
guru untuk HIS. Lama pelajarannya 4 tahun sesudah HIS. Bahasa yang diajarkan
yaitu, bahasa Daerah, bahasa Melayu, dan bahasa Belanda.
-
Hogere Kweekschool (HKS) tamatan
kweekschool yang terpilih dan mahir bahasa Belanda dapat melanjutkan di HKS.
Lama belajarnya 3 tahun.
-
Hollands Inlandes Kweekschool (HIK). HIK
mengantikan HKS, yang diterima di HIK adalah tamatan HKS yang lama belajarnya 6
tahun, atau tamatan MULO yang lama belajarnya 3 tahun.
Pada HIK ini diajarkan
ilmu alam/kimia, ilmu pasti, bahasa Inggris, bahasa Jerman, di samping bahasa
Belanda yang menjadi bahasa pengantar.
-
Hollands Chinese Kweekschool (HCK) yang
sederajat dengan HIK.
-
Kursus Hoofdakte adalah kursus-kursu
untuk calon Kepala Sekolah HIS, HCS dan
HAS. Yang diterima, guru-guru tamatan HKS, HCK, HIK, Europese Kweekschool yang
terpilih. Lama kursus untuk Kepala Sekolah berbahasa Belanda ini 2 tahun.
-
Osvia singkatan dari Opleidings-School
voor Inlandes Ambtenaren adalan sekolah untuk mendidik calon : Pangreh Praja.
Nama sekolah ini sesudah ditingkatkan mutunya diganti menjadi Mosviba
(Middelbare Opleidings School voor Bestuursambtenaren). Lama pendidikan 6 tahun
sesudah HIS, yaitu 3 tahun tingkatan MULO dan 3 tahun berikutnya tingkatan
Sekolah Menengah Atas.
-
Bestuurschool ialah untuk mendidik
calon-calon Bupati. Yang diterima, pejabat pangreh praja tamatan Mosviba yang
terpilih dan sebagian besar anak Bupati.
-
Sekolah-sekolah jurusan lainnya
: Sekolah Pertanian (Kultuurschool) di Bogor, Sekolah Pertanian Menengah Atas,
Sekolah Dokter Hewan, Sekolah Dokter Gula, Sekolah Pelayaran Menengah Atas
(Prins Hendrik School), Sekolah Pendidikan Kelasi Bangsa Indonesia di Makasar,
Rechtschool yang kemudian ditingkatkan menjadi Rechts Hoge School (Sekolah
untuk Sarjana Hukum), Sekolah Dokter Jawa (Stivia) yang kemudian ditingkatkan
menjadi Medische Hoge School (MHS). Sekolah-sekolah teknik dari Ambachtschool
sampai ke Technische hoge School.
2.2.2.
Nasib Guru pada Masa Hindia Belanda
Kekuasaan Belanda yang berlangsung tiga
setengah abad jatuh dalam waktu yang sangat singkat. Melitah persiapan tentara
Belanda, terutama mengenai mareriil baik alat-alat senjata maupun persediaan
makanan dan pakaian, sangat mengherankan hal ini terjadi. Salah satu sebab
ialah tidak nampaknya semangat peperangan pada para prajurit dan perwira
tentara Hindi Belanda. Sebab lain adalah kesalahan Hindia Belanda di dalam
menjalankan politiknya di Indonesia.
Politik kolonial Hindia Belanda itu sangat
dipuju oleh luar negeri. Susunan organisasi Pemerintah di Hindia Belanda diadakan
sedemikian rapi, sehingga tidak ada kejadian yang tidak segera diketahui oleh
pusat. Modal asing yang ditanam di sini jamin. Sehingga dengan leluasa orang
asing menggali keuntungan dari alam Indonesia. Dan tidak boleh dilupakan,
rakyat Indonesia sendiri pada waktu itu nampak tertib, sehingga melahirkan
ucapan bahwa bangsa Indonesia adalah “bangsa yang paling lemah lembut di
dunia”-“hetzachtste volk der aarde”. Politik memecah belah dilakukan sedemikian
halusyan, sehingga tidak dirasakan oleh yang berkepentingan. Dimana-mana
perbedaan pengajian mencolok sekali.
Di bidang pendidikan diadakan bermacam-macam
sekolah dasar, masing0masing untuk golongan tertentu. Umpama sekolah desa untuk
golongan orang desa, sokolah dasar angaka II untuk rakyat biasa yang ada di
kota, sekolah dasar berbahasa Belanda untuk anak-anak nigrat atau anak pegawai
pemerintahan Hindia Belanda.
Guru-gurunya tamtan bermacam-macam sekolah
guru, seperti Sekolah Guru Desa, Normaalschool (NS), Kweekschool (KS), Hogere
Kweekschool (HKS), Hollands Inlandce Kweekschool (HIK), Europase Kweekschool
(EKS), Indische Hoofdacte dan sebagaimananya. Guru-guru ini mempunyai serikat
sekerja masing-masing menurut ijasahnya.
Perbedaan dalam pengajian dan kedudukan
tersebut tidak jarang menimbulkan pertentangan antara golongan guru yang
bermacam-macam itu, hal mana yang tidak menguntungkan dunia pendidikan.
Oleh Pemerintahan Kolonial Belanda sengaja
diciptakan golongan tinggi dan golongan rendah yang sangat mempengaruhi
pergaulan antara golongan-golongan itu. Mereka itu pada umumnya tidak mau
saling mengenal.
Kalau jarak antara golongan tinggi dan
golongan rendah sudah begitu jauh, maka lebih besar lagi jarak antara rakyat
dengan pembesar-pembesar.
Siasat pecah belah ini diadakan di semua
lapangan, di dalam gerakan-gerakan masyarakat, baik yang mengenai politik
maupun yang mengenai sosial/ekonomi. Banyak para pemimpin pergerakan bangsa
Indonesia ditangkap, di masukkan ke penjara atau dibuang keluar daerah (ke
negeri Belanda, ke Bengkulu, ke Boven Digul/Iran dan lain-lain). Tndakan
pemerintah pemerintahan Hindia Belanda ini mengakibatkan lemahnya kedudukan
bangsa Indonesia pada umumnya di semua lapangan.
Tetapi hal yang demikian ini lama-lama dapat
dimengerti oleh rakyat berkat keberanian para pemimpin perjuangan. Lambat laun
timbullah rasa kecewa pada rakyat terhadap pemerintah colonial yang
diskrimintif dan memecah belah itu, baik yang terang-terangan maupun yang
terselubung.
Para pemimpin bangsa Indonesia yang bekerja
sama dengan Belanda pun merasa kecewa, karena beberapa usulnya dalam Volksraad
diabaikan sama sekali. Seperti usul mengadakan milisi di kalangan bangsa
Indonesia, usul mempermudah anak-anak Indonesia masuk sekolah-sekolah Belanda
dan sekolah Tinggi, usul supaya Volksraad benar-benar mengatur Negara (petisi
Soetardjo), usul mengenai pemberantasa buta huruf dan sebagainya.
Hal-hal seperti tersebut di atas itulah yang
akhirnya merugikan pemerintahan Hindia Belanda sendiri.
2.3.
Perjuangan Guru Pada masa Penjajahan Belanda
Penjajahan Belanda selama tiga setengah abad
mengakibatkan penderitaan lahir maupun batin bagi bangse Indonesia. Semenjak
penjajah menginjakkan kakinya dan mencekamkan kuku penjajahnya di bumi tanah
air kita ini, timbullah gejolak perjuangan bangsa kita menentang panjajah.
Mulai dari perjuangan fisik berkuah darah yang dilakukan oleh bangsa kita di
bawah pimpinan : Teuku Oemar, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pattimura, dan
lain-lain, sampai pada zaman perjuangan politik pada awal abad ke-20.
Nama-nama Kartini, Dr. Sutomo, Raden Ngabehi
Husodo, Ciptomangunkusumo, dan sederetan nama lain lagi, merupakan pecetus
perjuangan melalui ideologi pendidikan untuk memperjuangkan nasib bangsa kita
yang sangat sengsara di tapak kaum penjajah. Lahirnya Budi Utomo pada tahun
1908 merupakan obor perjuangan dikalangan kaum terpelajar dan kaum priyayi yang
secara sadar merasa terpanggil oleh jeritan nasib bangsanya yang menyedihkan.
Pada tahun 1908 itu juga berdiri organisasi
buruh Vereniging van Spoor dan Tramweg Personeel in Nederlands Indie (VSTP)
yakni satu organisasi buruh Tram dan Kereta Api, yang pada tahun 1923
mengadakan mogok kerja, membuat kalang kabutnya pemerintahan Belanda.
Pada tahun 1912 berdiri sebuah organisasi
agama, Muhammadiyah, di Yogyakarta. Diantara progamnya termasuk progam
pendidikan.
Suatu bangsa tidak akan merdeka tanpa adanya
pendidikan. Belanda memang sudah mendirikan sekolah di mana-mana, tetapi
sekolah itu hanya sekedar mencukupi pegawai yang diperlukan di segala instasi
dan perusahaan kaum penjajah. Oleh karena itu, Belanda tidak banyak mendirikan
sekolah. Akibatnya selama 350 tahun Belanda menjajah Indonesia dengan sensus
penduduk tahun 1930 bangsa Indonesia yang mengerti tulis baca hanya 5% saja.
Berkembangnya organisasi Muhammadiyah ini
tumbuh pula di serat tanah air kita sekolah-sekolah yang berpengantar bahasa
Melayu dan sekolah-sekolah yang berbahasa Belanda.
Pada tahun 1912 para guru berhasil membentuk
organisasi guru yang bersifat Unitaris yaitu Persatuan Guru Hindia Belanda
(PGHD) yang anggotanya terdiri dari guru-guru tanpa memandang perbedaan ijasah,
status, tempat bekerja, dan agama atau kepercayaan.
Salah satu kegiatan PGHD yang paling
menonjol dalam bidang sosial adalah didirikannya Perseroan Asuransi Bumi Putera
langsung dibawah PGHD pimpinan Karto Hadi Subroto., yang bertujuan untuk membantu
meningkatkan kesejahteraan guru sebagai anggota. Dalam perkembangannya
perseroan ini akhirnya lepas dari PGHD. Melihat terbentuknya persatuan guru
yang tergabung dalam PGHD, pemerintah Belanda berusaha untuk menghancurkannya
dengan mendirikan berbagai jenis organisasi. Akibatnya PGHD pecah menjadi
organisasi-organisasi yang berdasarkan ijasah, tempat pekerjaan, agama dan
lain-lain.
Organisasi-organisasi yang didirikan oleh
pemerintahan Belanda tahun 1919 antara lain :
a.
PGB = Perserikatan Guru Bantu
b.
PNS = Perserikatan Normaal School
c.
KSB = Kweekschool Bond (Perserikatan Guru Kweekschool)
d.
SOB = School Ohzieners Bond (Perserikatan Guru Sekolah)
e.
PGD = Perserikatan guru Desa
f.
VOB = Volk Onderweys Bond (Perserikatan Guru Kejuruan)
g.
PGAS =Perserikatan Guru Ambatschool (Sekolah Pertukangan)
h.
HKSB = Hogere Kweekschool Bond (Perserikatan Guru Tingkat Atas)
i.
NIOG = Nerdeland Indisch Onderweys Genootschap (Perserikatan Guru Bumi
Putera)
j.
OVO = Onderweys Volk Organization
k.
COB = Chineeche Onderweyzer Bond (Perserikatan Guru Tionghoa)
l.
KOB = Katholieke Onderweyzer Bond (Perserikatan Guru Katholik)
m.
COB = Christelike Onderweyzer Bond (Perserikatan Guru Kristen)
Sebagai usaha untuk memperjuangkan nasib
anggotanya, PGHD pada tahun 1930-an mencoba menggabungkan diri pada Persatuan
Vakbonden Pegawai Negeri (PVPN). PVPN merupakan perpusatan serikat sekerja
pegawai negeri yang sejek pendiriannya berada di luar pengaruh partai-partai
politik dan PVNP sendiri tidak mempunyai tujuan politik. Masuknya PGHD menjadi
anggota PVNP diharapkan dapat memperjuangkan nasib guru. Beberapa usaha PVNP
itu antara lain pada bulan Desember 1931 mengadakan rapat disertai oleh
perkumpulan politik Budi Utomo, Pasundan, Sarekat Sumatra, Sarekat Ambon, Kaum
Betawi, dan Jong Celebes, untuk memprotes rancangan pemerintah yang hendak
mengadkan penghematan besar-besaran di lapangan pengajaran, yang berakibat
tidak saja guru-guru banyak kehilangan pekerjaan tetapi juga menghambat
kamajuan rakyat.
Anggota “Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri”
(PVPN) adalah sebagai berikut :
1.
Perhimpunan Pegawai Spoor dan
Tram (PPST) dengan 6.000 anggota
2.
Persatuan Guru Indonesia (PGI)
dengan 13.000 anggota
3.
Vereninging van Indonesisch
Perseneel bij de irrigatie, Waterstaat en Waterschappen (VIPIW)dengan anggota
6.000
4.
Perhimpunan Pegawai Pengadaian
Bumuputera (PPPB) dengan 3.544 anggota
5.
Landelijke Inkomstenbond (LIB)
dengan 496 anggota
6.
Kadasterbond dengan 219 anggota
7.
Perserikatan Kaum Sekerja
Boswezen (PKSB) dengan 1.350 anggota
8.
Vereniging van Ambtenare dan
Middelbare Opleiding bij de Landbouw en Aanverwante Diensten (VAMOLA) dengan
250 anggota
9.
Persatuan Pegawai Mijbouw (PPMB)
dengan 105 anggota
10.
Perhimpunan Kaum Verpleger,
Verpleegster dan Vroedvrouwen Indonesia (PKVI) dengan 1.362 anggota
11.
Vereniging van Middelbare
Personeel bij de Post, Telegraaf en Telefoondienst (Midpost) dengan 650 anggota
12.
Persatuan Pegawai Algemene Volksscredietbank
(PPAVB) dengan 1.800 anggota
13.
Opiumregiebond Luar Jawa dan
Madura (ORBLJM) dengan 200 anggota
14.
Persatuan Pegawai Post,
Telegraf dan Telefoon Rendahan (PTTR) dengan 6.000 anggota
15.
Vereniging van Opzichters bij
de Land, Tuinbouw en Aanverwante Diesten (VOLTA) dengan 70 anggota
16.
Perserikatan Mantri bij de
Malariabestrijding (PMMB) dengan 42 anggota
17.
Persatuan Pegawai
Pestbestrijding (PPP) dengan 175 anggota
18.
Opiumregiebond Hindia Belanda
(ORBHB) dengan 200 anggota
Jumlah anggota PVPN
pada 1 Desember 1939 ada 41.521 orang. Persatuan Guru Indonesia (PGI) terjadi
dari greopsdond :
a.
Hogere Kweekschoolbond (HKSB)
b.
Oud Kweekscholierenbond (OKSB)
c.
Persatuan Normaalschool (PNS)
d.
Persatuan guru Ambachtsschool
(PGAS)
e.
Volksoderwijzersbond (VOB)
Perkembangan berikutnya PGHD berganti nama
menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) pada tahun 1933 sebagai akibat dari
dikeluarkannya peraturan pemerintah mengenai sarekat sekerja pegawai negeri.
Bertukarnya nama Hindia Belanda dengan nama Indonesia merupakan geledek di siang
bolong bagi penjajah. Karena nama Indonesia termasuk istilah yang paling tak
disenagi oleh penjajah Belanda, tetapi paling dirindukan dan diidam-idamkan
setiap putera Indonesia, termasuk para guru.
Baik juga dicatat di sini bahwa di samping
PGI adalagi berbagai bond yang bercorak agama, bangsa dan sebagainya, seperti :
Nederlands Indische Onderwijsgenootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru
tanpa membedakan golongan agama, Christelijke Onderwijs Vereniging (COV),
Khatolieke Onderwijsbond (KOB), Vereniging Van muloleerkrachten dan lain-lain.
Pada kongres ke-23 di Surabaya tanggal 2-6 Januari 1934, PGI
yang telah mempunyai 20.000 anggota membicarakan kedudukan para guru
berhubungan dengan krisis dan penghematan gaji pegawai negeri.
Perjuangan PGI itu tidak seluruhnya berjalan
mulus, Persatuan Guru Bantu (PGB) pada bulan Juli 1934 mengundurkan diri dari
PGI karena dianggap kurang tegas didalam mempertahankan kepentingan golongan
Guru Bantu. PGB menyalahkan sikap PGI dengan diberlakukannya peraturan gaji
baru oleh pemerintahan yang sangat menjatuhkan kedudukan dan gajinya. Meskipun
PGB mengundurkan diri, perkumpulan guru-guru lainnya tetap bersatu dalam PGI.,
antara lain PGAS, VOB, Oud Kweekschool Bond (OKSB), PNS, dan HKSB.
Kongres PGI ke-25 tanggal 25-29 Novemper
1936 di Madiun, isinya menentang maksud pemerintah untuk memindahkan urusan
pengajaran dari tangan pemerintahan pusat ke tangan pemerintahan daerah,
berhubung kurang perlengkapan dan terbatasnya keuangan pemerintah daerah, dan
dikhawatirkan dapat berakibat pada kemunduran pengajaran. Di dalam kongres PGI
ke-26 yang diadakan pada bulan Nopember 1937 di Bandung bertepatan dengan
peringatan dua puluh lima tahun berdirinya PGI, dirumuskan supaya diadakan
wajib belajar. Selanjutnya di dalam kongres PGI tahun 1938 yang diselenggarakan
di Malang, diputuskan antara lain perlunya perbaikan gaji para guru dan
menuntuk agar pendidikan dan pengajaran yang diselenggarakan ke daerah harus
didahului dengan perbaikan keuangan daerah.
Perang dunia pecah. Tahun 1940 negeri
Belanda diduduki Jerman. Pada tahun 1941 semua guru-guru laki-laki
(Belanda)ditugaskan masuk milisi. Untuk mengisi kekosongan guru, beberapa
sekolah sejenis digabung. Kekosongan itu diisi oleh guru-guru Indonesia.
Pada pemerintahan Jepang segala organisasi
dilarang, sekolah ditutup,. Secara otomatis segala pendidikan menjadi beku.
2.4.
Keadaan Pendidikan pada Masa Penjajahan Jepang
Dalam bulan Februari 1942 tentara Jepang
menduduki Indonesia. Pertahanan sekutu yang bernama ABCD front di Asia Timur,
berantakan tak berdaya menghadapi bala tentara Dai Nippon. Pemerintahan tentara
pendudukan Jepang melarang pengunaan bahasa Belanda dan Ingrris.
Diperintahkannya agar disampaing bahasa resmi di sekolah-sekolah dan bahasa
Jepang dipelajari dan diajarkan juga.
Lagu Indonesia Raya diperbolehkan disamping
lagu Kimigayo. Akan tetapi semua perkumpulan atau perserikatan dilarang. Jadi
PGI pun tak berdaya. Kebudayaan Indonesia dihormati mereka karena Jepang
menganggap dirinya saudara tua pemimpin Asia.
Sejak itu sekolah-sekolah diberi nama
Indonesia dan Jepang. Sekolah Dasar diberi nama “Syo Gakko”, sekolah Menengah
“Cu Gakko”, dan Sekolah Tinggi “Dai Gakko”.
Bulan September 1942 Pemerintahan Jepang
mulai membuka Sekolah Menengah Pertama dan Atas, termasuk sekolah-sekolah
kejuruan termasuk seperti “Sihan Gakko” (Sekolah Guru), “Kasei Jo Gakko”
(Sekolah Kepandaian Putri) dan lain-lain.
Guru-guru Indonesia dengan semangat
kebangsaan masih tetap bekerja di bawah pemerintahan Belanda.
Di Ibu Kota Indonesia Jakarta, Amin Singgih mendirikan
perserikatan dengan nama “GURU” bersama kawan-kawannya untuk memberikan teladan
nyata bahwa guru-guru Indonesia itu tetap memupuk rasa kesatuan Nasional.
Peristiwa ini terjadi dalam tahun 1943. Dalam tahun 1943 juga Sdr. Gustam
Effendy, Adnam dan Hamid mendirikan perkumpulan kesenian yang bernama “kesta”
(Kesenian kita). Wadah ini banyak mengumpulkan uang menyokong Pemerintah
militer Jepang. Akan tetapi pada awal revolusi Indonesia dalam bulan Agustus
sampai dengan Desember 1945 banyaklah “kesta”ini mengumpulkan uang yang
disumbangkan kepada Fonds Kemerdekaan Inonesia di kota Palembang. Pemuda-pemuda
Indonesia pada waktu revolusi kemerdekaan 1945 itu membentuk “BKR” dan pelbagi
sejenis organisasi perjuangan untuk mempertahankan kemerdakaan RI. Adapun BKR
itu ialah singkatan dari Badan Keamanan Rakyat yang menjadi pokok pangkal
“Tentara Nasional Indonesia” (TNI).
Pemerintah militer Jepang ingin agar rakyat
Indonesia bersatu padu untuk membantu mereka menghadapi tentara Sekutu. Oleh sebab itu semua daya
upaya dilakukannya untuk mengambil hati bangsa Indonesia. Mereka mengatakan
bahwa merekan dating tidak untuk menjajah sesama bangsa Asia, tetapi melepaskan
belenggu penjajah orang kulit putih. Mereka pemimpin Asia, cahaya Asia dan
kekuatan Asia (Gerakan 3 A).
Orang Jepang sangat menghargai waktu dan
sangat berdisiplin. Mereka sangat rajin dan berpengerahuan teknik yang tinggi.
Mereka memerlukan materi dan tenaga untuk mencapai kemenangan. Berates-ratus
ribu tenaga buruh kasar bangsa Indonesia dijadikan “Romusa” untuk membangun
jalan, pelabuhan, lapangan terbang dan lain-lain.
Tentara pembantu yang dinamai “Heiho”.
Barisan pemuda “Seinedan”, perkumpulan wanita “ Fujikai”. Organisasi rakyat
dibentuk dan dikerahkan dengan maksud untuk melatih rakyat membantu mereka.
Semuanya dilakukan dengan disiplin militer yang sangat keras. Semuanya itu
minta pengorbanan jiwa dan harta yang sangat hebat dari bangsa Indonesia.
Makanan, pakaian, dan lain-lain keprluan hidup rakyat dikuasai oleh militer dan
dibagi-bagikan.
Penderitaan rakyat tidak terkira lagi. Akan
tetapi di dalam derita dan duka nestapa ini ada juga hikmahnya bagi bangsa
kita. Orang-orang Jepang itu mengajarkan pada kita untuk bekerja dengan cekatan
dan terampil di segala bidang. Rasa harga diri bangsa Timur dibangungkannya.
Mereka memerlukan tenaga pembantu untuk membangun cita-cita mereka yang sangat
besar yaitu, untuk memenangkan “Peperangan Asia Timur Raya”(Dai Toa Sensoo).
Untuk memperkuat pertahanan di garis belakang, bangsa kita dilatih di bidang
pertanian dan perindustrian. Pabrik barang-barang keperlan sehari-hari dibangun
mereka, seperti pabrik tekstil, pabrik paku, galangan kapas dan lain-lain.
Perkebunan kapas, kepala sawit, jarak dan tumbuh-tumbuhan lain untuk makanan
diwajibkan bagi rakyat. Untuk memperkuat garis depan bangsa Indonesia dilatih
di bidang kemiliteran dan membuat persenjataan sendiri. Untuk menjabat opsir
(perwira) diadakan sekolah atau pusat-pusat latihan kemiliteran seperti
“Gyugun” di Sumatra dan “Peta” ( Pertahanan Tanah Air) di Jawa. Semua ini pada
jaman penjajahan Belanda adalah tabu, karena Belanda takut akan akibatnya bagi
diri mereka sendiri. Bagi orang Jepang tidak demikian. Mereka membangkitkan
semangat keberanian bangsa Asia (Timur) dengan tujuan menjunjung falsafah
turunan Amaterasu O’Mikami ialah “Hakkoo Iciu), yang maksudnya ialah, bahwa
semua bangsa disegenap kolong langit di muka bumu ini haruslah bersatu di bawah
pimpinan bangsa Dai Nippon. Sebagaiman yang tejadi, sejarah telah membuktikan,
bahwa hasil pelajaran mereka ini akhirnya dipakai oleh bangsa Indonesia untuk
merebut kemerdekaannya sendiri dari tangan penjajah.
Jenderal-jenderal kita seperti Soedirman, A.
H. Nasution, Alamsyah, Rya Kudu dan lain-lain, adalah hasil pendidikan militer
Jepang. Orang-orang Jepang itu tahu bahwa sumber kemajuan dan kekuatan suatu
bagsa adalah pendidikan. Pendidikan itu perlu untuk kebangunan dan pembangunan
suatu bangsa. Pendidikan yang baik haruslah dilahirkan oleh guru-guru yang baik
pula. Orang Jepang sangat menghormati kaum guru. Guru dan dokter mendapat
panggilan kehormatan dari oaring Jepang dengan sebutan “Sensei” yang berarti
“mula-mula hidup” atau yang dahulu sekali hidup (orang yang tertua).
Untuk mendidik calon guru yang baik, dibukalah
sekolah guru yang dinamai ”Sihan Gatakaoo”, pada tahun 1944 dibuka pula di ibu
kota pulau Sumatra (Bukit Tinggi) sebuah sekolah guru utama yang bernama “Joo
Kyuu Sihan Gakko”. Yang diambil menjadi muridnya guru-guru yang terbaik
daerah-daerah Keresidenan (Syuu). Jumlahnya terbatas sekali. Untuk angkatan
pertama dari Lampung Syuu diterima diantaranya M. Nur Asyikin, Raja Sangun,
dari Palembang, Syuu Madian, Gustam Effendy. Waktu itu juga di daerah Batu
Sangkar dibuka sekolah “Joo Kyuu Kanri Gakko” yaitru sekolah untuk pamong praja
(camat atau asisten wedana) yang terpilih. Para gakusei (mahasiswa) dari Joo
Kyuu Sihan Gakko waktu itu diberi berpakaian seragam lengkap dengan celana
panjang, sedangkan sekolah-sekolah lainnya berseragam celana pendek semuanya.
Waktu “Gunseikang” (gubernur) dan
orang-orang besar dari Tokyo mengunjungi sekolah-sekolah utama itu, maka Joo
Kyuu Sihan Gakkoo-lah pertama kalinyan dikujungi mereka. Ini membuktikan
tingginya pandangan bangsa Jepang terhadap kaum guru.
Sejarah telah membuktikan, bahwa bangsa
Jepang yang kemajuannya memukau dunia ini, dahulu asalnya dari “Meijirestorasi”
yang memajukan pendidikan bangsa Jepang lebih dahulu dari bidang manapun.
Kepada bangsa Indonesia, menjelang akan
berakhirnya perang dunia kedua, oleh bangsa Jepang dijanjikan akan diberi
kemerdekaan. Sebab itu merekan membentuk suatu badan yang bernam “Indonesiano
Dokuritsuno Jummbi” (Perserikatan Kemerdakaan Bangsa Indonesia) di Jakarta.
Disamping itu dipersiapkan juga “Gimu Kyioiku no jumbi” (Perseiapan Kewajiban
Belajar).
Dengan pendudukan militer Jepang itu kita
dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada suatu perjuangan dan pengorbanan yang
sia-sia. Walaupun kita harus membayar dengan harga yang sangat mahal, akan
tetapi ada juga imbalannya yang sangat besar, yaitu kebangunan dan persatuan
bangsa kita. Kita bangun serentak dalam waktu yang sangat singkat dan bersatu
padu dari Sabang sampai Merauke merebut kemerdekaan kita. Pemimpin besar bangsa
Indonesia Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada
tangga 17 Agustus 1945.
Di jaman pendudukan Jepang itu pernah Sutan
Syahrir masuk barisan romusha dan bekerja sangat berat demi kepentingan
perjuangan dibawah tanahnya. Dia melakukan penyamaran-penyamaran dan
menyerempet bahaya kekejaman Kempeitei Jepang yang sangat terkenal. Akhirnya
bangsa jepang kala dalam perang dunua II dan bangsa Indonesia memperoleh
kesempatan tepat dan baik untuk merebut dan menentukan kemerdekaan bangsa dan
tanah air Indonesia yang tercinta.
Dalam peyerbuan ke Indonesia tentara Jepang
tidak banyak mengeluarkan tenaga. Ini terbukti dari penyerahan tanpa syarat
angkatan perang Belanda dalam beberapa hari saja.
Jepang mengutahui betul bahwa masyarakat
Indonesia merasa kecewa terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Pengetahuan ini
dihimpun oleh orang-orang Jepang yang di mana-mana membuka toko, atau pergi ke
desa-desa untuk menjual barang-barabg dengan tunai atau dengan cara “membon”
(banyak bon ini di kemudian hari tidak pernah ditagih). Mereka bersikap sangat
sopan terhadap bangsa Indonesia, dan harga barang-barang nya sangat murah.semua
ini sangat menawan hati rakyat orang-orang jepang ini kemana-mana selalu
membawa pemotret dan membuat foto-foto. Pada waktu-waktu tertentu mereka pulang
ke negerinya untuk memberikan laporan. Kemudian hari ternyata bahwa mereka itu
di jepang mempunyai kedudukan militer.
Rasa kecewa bangsa Indonesia terhadap
Belanda itulah yang akhirnya meringngankan Jepang. Pada waktu itu simpati umum
terhadap Jepang besar sekali.
Di samping itu propaganda Jepang di lakukun
secara sempurna sekali. Siaran radio dari Tokyo yang di dengarkan secara
rahasia oleh orang-orang Indonesia menimbulkan pengharapan umum untuk segera
dapat bebas dari penjajahan Belanda dan mendapat kemerdekaan. Siaran itu di
mulai dengan lagi Indonesia Raya yang kemudian di sambung dengan pidato-pidato
dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato ini mendapat perhatian besar dari
pendengar-pendengar bangsa Indonesia. Rakyat Nampak terpikat oleh Jepang.
Apalagi setelsh membaca pamphlet-pamflet yang berisikan pernyataan pemerintah
Jepang, bahwa serbuan bertujuan untuk memerdekakan bangsa Indonesia.
Pada waktu tentara Jepang baru menduduki
Indonesia pegawai bangsa indonesia tetap memegang jabatanya semula.kecuali
orang-orang Belanda yang merupakan tenaga ahli yang tetap di pakai, semua
pegawai Belanda di tangkap dan digantikan oleh tenaga Jepang atau Indonesia.
Kesulitan-kesulitan yang semula di derita
oleh pemerintahan baru ialah tidak adanya uang, karena semua telah di bawa lari
oleh Belanda. Tetapi tidak lama kemudian uang Jepang mulai mengalir ke
Indonesia.
Orang tidak sangsi lagi, bahwa saudara tua
ini benar-benar akan memberikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu
semua keinginan dan perintah dari Jepang di taati oleh masyarakat.
Semangat anti imperialis dan membenci
Sekutu, begitu pula semangat nasionalis di korbankan. Pemuda-pemuda di lantik
sebagai militer dengan dipersanjatai bambu runcing. Penduduk di latih membasmi
kebakaran. Latihan Palang Merah tidak ketingalan. Para pemuda terpelajar di
jadikan anggota PETA. Di katakana bahwa semua kegiatan ini diadakan untuk
kepentinga nasional dan untuk menentang tiap-tiap usaha bangsa asing yang ingin
menjajah Indonesia lagi. Para pemuda rela untuk melakukan apa saja guna
menentang kemungkinan datangnya penjajah kembali. Lagu kebangsaan Jepang
“Kimigayo” dan teriakan “banzai” berkumandang di mana-mana.
Ribuan pemuda ikut dengan tentara Jepang
sampai keluar Indonesia sebagai Heiho. Puluhan ribu anggota masyarakat dengan
pengorbanan yang tidak sedikit dipekerjakan Sebagi romusa membuat
lapangan-lapangan terbang, jalan-jalan, rel kereta api, dan jembatan-jembatan
yang diperlukan oleh tentara Jepang.
Setiap hari terlihat pemuda pemudi berbaris
secara militer. Supaya orang berfikir cerdas kesehatan badan harus dipelihara
dengan berolahraga atau taiso. Pada waktu-waktutertentu radio umum meyiarkan
pelajaran taiso. Semua orang yang lewat harus berhenti dan ikut berolah raga.
Semua ini sesungguhnya hanya siasat belaka
pemerintah Jepang untuk mendapatkan tenaga di front belakang dalam menghadapi
Sekutu yang serangannya makin hari makin menghebat. Dalam pada itu ini
dipergunakan oleh para pemimpin Indonesia untuk mengobar-obarkan rasa
kebangsaan.
Seni suara dan sandiwara diberi fasilitas
cukup. Hal ini sesungguhnya hanya ditujukan kea rah semangat sebentar dan
memuji-muji Dai Nippon rombongan bioskop keliling sampai kepelosaok-pelosok
desa mempertujukan kemenangan angkatan perang Jepang di mana-mana. Sebelum
pertunjukan di mulai di layar putih selalu diperlihatkan debgan tulisan yang
benar-benar kalimat “Alhamdulillah, Asia telah kembali kepada Asia”
Sekolah-sekolah yang sudah lama ditutup
dibuka kembali. Bahasa Belanda dan Inggris dilarang diganti dengan pelajaran bahasa
Nippon dengan huruf katakana dan kanji. Untuk bahasa Indonesia dipakai sebagai
bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan dipergunakan di kantor-kantor. Lantaran
tidak sengaja menggunakan bahasa Belanda seseorang dapat ditempeling atau
ditendang, bahkan dimasukkan ke dalam penjara dengan tuduhan mata-mata.
Dalam hal berpakaian sangat kurang sekali.
Banyak orang yang terlihat dengan pakaian yang compang-camping atau dibuat dari
goni. Bahkan makin hari pakaian makin kurang.
Alat-alat Negara bangsa Indonesia mulai
rendah juga, karena banyak jabatan penting yang diduduki oleh orang-orang
Jepang. Mereka melihatkan sikap bahwa merekalah yang paling berkuasa.
Menghormati dan membungkuk terhadap bendera
Nippon Tenno Heika lambat laun dirasakan bertantangan dengan agama. Puncak
kekecewaan terhadap Jepang disebabkan adanya larangan untuk lagu Indonesia Raya
dan mengucapkan kata Merdeka.
Mulailah timbul rasa kesaingan terhadap
maksud Jepang untuk melepaskan Indonesia dikemudian hari. Orang mulai merasa
ditipu dan berani kepada Jepang. Bantuan kepada Jepang mulai berkurang. Begitu
pula sering terjadi orang yang ditempeling oleh orang Jepang.
Bahkan di sana-sini mulai timbul
pemberontakan keci-kecilan, seperti di Blitar (Peta), Indramayu dan lain-lain.
Akhirnya tersiarlah berita secara rahasia
bahwa Jepang kalah dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu.
Angkatan perang Jepang di Indonesia terpaksa
meletakkan senjata dan berkewajiban untuk menjaga keamanan selama penyerahan
pemerintah kepada sekutu belum dilakukan.
Dalam saat inilah meletus dengan hebatnya
semangat revolusi bangsa Indonesia. Perkelahian dan pertempuran dengan Jepang
terjadi di beberapa daerah, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta,
Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Dengan bersenjata bamboo runcing
pemuda-pemuda kita menyerbu Jepang di mana-mana. Pekik Merdekan dan teriakan
siap (seruan untuk berkumpul) bergelora di angkasa. Teriakan siap inilah yang
kemudian hari sangat ditakuti oleh orang Nica.
Dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945
jam 10.00 Negara Indonesia Merdeka diproklamasikan.
Walaupun Jepang meninggalkan riwayat yang
tidak baik di Indonesia, penuh dengan kebihingan dan kekejaman, namunharus
diakui pula bahwa dalam beberapa hal mereka membawa kebaikan juga bagi
perkembangan masyarakat Indonesia.
Pertama
: Hal cinta kepada Tanah Air tidak lagi hanya tinggal di bibir saja. Bangsa
Indonesia bersedia berkorban segala-galanya, jiwa dan raganya, untuk menentang
tiap-tiap gunguan yang ada di Tanah Airnya.
Kedua
: Rasa harga diri nampak dan tumbuh benar pada masyarakat Indonesia dan
menentang tiap-tiap sikap yang dapat merugikan dan mengurangi kehormatan Bangsa
dan Tanah Air.
Maka bangsa Indonesia tidak dapat lagi
secara cemooh dijuluki sebagai “bangsa yang paling lemah lembut di dunia”.
Sedangkan akibat yang negatif yang dialamin
oleh bangsa Indonesia selama panjajahan Jepang antara lain :
a.
Korban jiwa akibat kerja Rodi
b.
Penderitaan lahir dan batin
yang diderita oleh penduduk Indonesia
c.
Rusaknya mental bangsa
Indonesia karena banyak yang menderita kelaparan
d.
Hilangnya harta benda rakyat
Indonesia yang dirampas oleh Jepang
2.5.
Perjuangan Guru pada Masa Penjajahan Jepang
Jepang mulai menguasai dan menjajah
Indonesia sejak belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati
(Bandung) tanggal 8 Maret 1942. Sejak saat itulah penjajahan bangsa Belanda
terhadap bangsa Indonesia berakhir untuk selama-lamanya. Lepas dari bangsa
Belanda, Indonesia jatuh ke tanggan Jepang selama tiga setengah tahun (Maret 1942 –
Agustus 1945) Indonesia dijajah Jepang.
Bagi Jepang, guru dipandang sebagai orang
yang sangat dihormati. Sang guru mendapat kehormatan dengan julukan Sensei,
yang mempunyai kedudukan sosial yang sangat dihormati. Begitu pula oleh
murid-muridnya di sekolah yang berbeda dengan sekarang (kurang penghargaan).
Jepang mungkin sangat berterima kasih kepada guru yang telah berjuang
mempropaganda misinya pada masyarakat luas, khususnya pada siswa. siswa sendiri
begitu tundu, sopan, hormat dan segan pada guru sehingga kedudukan guru pada
waktu itu terpandang secara jabatan ketimbang moral.
Berbeda dengan masa panjajahan Hindia
Belanda dimana guru-guru membentuk wadah organisasi PGHD atau PGI sebagai wadah
perjuangannya, pada zaman penjajahan Jepang dapat dikatakan tidak ada wadah
yang menaunginya. Organisasi guru secara khusus tidak dapat hidup seperti juga
partai-partai atau organisasi masa Indonesia selain yang bukan ciptaan Jepang. Hal
itu diakibatkan pemerintah Jepang telah mengeluarkan Undang-undang yang
melarang adanya pergerakan politik di Indonesia.
Sikap para pejuang bangsa Indonesia termasuk
para guru, dalam bentuk luarnya tidak berbuat apa-apa kecuali mengikuti apa
yang dikehendaki oleh Jepang. Tetapi secara illegal secara cermat memanfaatkan setiap
ada kesempatan untuk malawan Jepang. Jadi para tokoh-tokoh perjuangan termasuk
para guru cara berjuangnya yaitu secara legal dan illegal.
Secara legal menempuh bekerja sama dengan
Jepang yaitu menduduki lambaga-lembaga pemerintahan dan menjadi guru di
sekolah-sekolah yang didirikan oleh Jepang, serta menduduki
organisasi-organisasi buatan Jepang. Sedangkan yang bergerak secara illegal
berjuang menurut caranya sendiri-sendiri mereka bergerak lebih berhati-hati
agar tidak diketahui oleh Jepang.
Kalau diikuti perjuangan pada saat itu maka
perjuangan guru sangat berat karena harus bermuka dua. Apabila ketahuan
sangsinya sangat berat. Meskipun demikian para guru tidak takut, pernah di
Jakarta dibentuk perserikatan guru dengan nama “GURU” yang dipimpin oleh Amir
Singgih organisasi guru yang sudah ada (PGI) dibekukan oleh Jepang sehingga
tidak dapat bergerak. Para guru terpaksa mencari jalan lain untuk dapat
berjuang yaitu masuk dalam organisasi yang di buat Jepang. Misalnya menjadi
anggota dari Gerakan 3A, Putera, Peta, anggota Keibondan (Pembantu Keamanan
Kampung), Seinendan (organisasi pemuda yang mendapat latihan militer) serta
anggota Fujikai (organisasi guru wanita). Organisasi-organisasi tersebut dapat
dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia termasuk para guru, para pendidik unuk
mempercepat timbulnya kesadaran nasional.
Perjuangan para guru dan semua rakyat indonesisa semakin berhasil.
Jepang semakin terdesak oleh Sekutu, Jepang terpaksa lebih mendakati pada
rakyat Indonesia yaitu menyanyikan kemerdekaan, apabila rakyat Indonesia
membantu Jepang dalam melawan tentara Sekutu/Amerika, Britisch, China, dan
Dutch.
Kalau dicermati dengan sungguh-sungguh
perjuangan para guru pad masa penjajahan Jepang, maka para guru berjuang sangat
hati-hati menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Kadang-kadang non
koperasi, kadang-kadang koperasi, kadang-kadang legal, dan kadang-kadang illegal.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Pada masa penjajahan baik penjajaha Belanda
maupun penjajahan Jepang, guru mendapatkan penghargaan dan dihormati. Pada masa
panjajahan Jepang, guru dianggap sebagai panutan untuk masyarakat, pemimpin
masyarakat, dipanggil ndoro guru dengan status ekonomi yang cukup tinggi.
Namun dibalik penghagaan yang di dapat para
guru tersebut, mereka juga mengalami penderitaan yang sangat mendalam. Para
guru juga merasakan bagaimana sulitnya memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan
kemerdekaan Indonesia.
Perjuamgan guru yang sangat besar pada masa
penjajahan sekarang sudah tidak ada artinya lagi. Guru pada jaman sekarang
sudah tidak mendapatkan penghormatan oleh masyarakat. Jangankan guru, para
pejuang kita yang masih hidup pun sekarang tidak mendapatkan kesejahteraan di
masa tuanya. Bahkan banyak ysekali mantan pejuang kita yang hidupnya
memprihatinkan, termasuk para guru yang tidak lagi mendapat kedudukan tertinggi
di kalangan masyarakat. Padahal para guru juga ikut memperjuangkan kemerdekaan
yang kita rasakan saat ini.
3.2.
Saran
-
Pemerintah harus lebih
memperhatikan lagi kesejahteraan guru
-
Sebaikknya masyarakat sekarang
lebih menyadari betapa berharganya guru dan tidak menyepelehkan profesi guru
-
Sebagai mahasiswa sebaiknya
lebih memperhatikan jalanya kesejahteraan guru
-
Sebagai siswa hargailah gurumu.
-
Sebagai guru sendiri lebih
meningkatkan kinerjanya di dalam mencerdaskan anak bangsa.